Maret 28, 2026
656744136_1441075380803481_4109251528517919657_n-removebg-preview

Bogor, bharindo.co.id — Setelah tiga tahun terkatung-katung tanpa kepastian, nasib Asrama Mahasiswa Gorontalo di Bogor akhirnya menemukan titik terang. Di tengah lambannya realisasi bantuan pemerintah, dua tokoh sukses asal Gorontalo tampil memecah kebuntuan dengan langkah nyata: membiayai renovasi asrama yang kondisinya kian memprihatinkan.

Dua figur tersebut adalah Rizal Alaydrus dan Papip Celebes. Keduanya berkolaborasi memberikan bantuan penuh sebagai bentuk kepedulian terhadap mahasiswa Gorontalo yang menempuh pendidikan di perantauan.

Diketahui, Rizal Alaydrus merupakan sosok publik yang dikenal luas sebagai presenter program kesehatan di televisi nasional, sekaligus pengusaha di sektor batu bara. Sementara Papip Celebes dikenal sebagai trader sukses dengan metode khasnya di dunia trading.

Langkah keduanya menjadi jawaban atas kebuntuan panjang yang sebelumnya dihadapi pengelola asrama. Berbagai proposal telah diajukan ke pemerintah daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten, bahkan telah melalui sejumlah peninjauan lapangan oleh DPRD dan Dinas PUPR Provinsi Gorontalo. Namun, hingga pergantian kepemimpinan gubernur, realisasi pembangunan tak kunjung terwujud.

Sementara itu, kondisi asrama terus memburuk. Kerusakan parah pada atap dan sistem talang air menyebabkan kebocoran serius, terlebih dengan tingginya curah hujan di Kota Bogor. Situasi ini berdampak langsung pada kenyamanan dan aktivitas belajar para mahasiswa.

Ketua Asrama Mahasiswa Gorontalo, Putra Gorapu, menyampaikan rasa syukur atas bantuan tersebut.

“Ini adalah hadiah besar bagi kami. Setelah berbagai upaya birokrasi yang panjang, akhirnya ada kepedulian nyata. Kami sangat berterima kasih kepada dr. Rizal Alaydrus dan Papip Celebes. Ini harapan baru bagi kami untuk memiliki tempat tinggal yang layak,” ujarnya.

Sementara itu, kedua donatur menegaskan bahwa kontribusi mereka bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda Gorontalo.

“Bagaimana kita berharap mereka kembali membangun daerah jika dalam proses pendidikannya saja kurang mendapat perhatian? Ini bukan hanya soal bangunan, tapi masa depan,” ungkap mereka.

Keduanya juga menyampaikan pesan moral bahwa kepedulian sosial tidak harus menunggu jabatan.

“Tidak perlu menjadi pejabat untuk membantu. Siapa pun yang mampu dan peduli, sudah seharusnya berani mengambil peran,” tegasnya.

Aksi ini pun menjadi sorotan sebagai bentuk nyata kepedulian anak daerah terhadap generasi penerus, sekaligus pengingat bahwa solidaritas sosial dapat menjadi solusi di tengah lambannya birokrasi. (ils78***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *