Februari 10, 2026
image (1)

bharindo.co.id ACEH TAMIANG,— Dua helikopter Polri, masing-masing jenis AW 169/P3308 dengan kru AKBP Bima Helpin, Kompol Hotman, Aipda Sugiyanto, dan Bripka Joko Edi, serta helikopter Dauphin AS365/P3302 yang diawaki AKP Wiwit, Iptu Abdiel, Brigpol Ageng, dan Briptu Berlian, mendarat di Lapangan Bima Patra, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Sabtu siang. Kedua heli tersebut ditugaskan mengantarkan bantuan ke wilayah terdampak bencana di daerah itu.

Setelah menuntaskan misi pengiriman logistik, kedua helikopter Polri Udara tetap siaga di lokasi untuk penugasan berikutnya. Sembari menunggu, para personel menyempatkan diri berinteraksi langsung dengan warga selama kurang lebih dua jam. Mereka mendengarkan keluhan masyarakat, berbincang ringan, sekaligus menyerap situasi lapangan yang masih berada dalam kondisi darurat.

Beberapa anggota kru bahkan memilih duduk bersama anak-anak setempat. Gelak tawa terdengar ketika mereka bermain tebak-tebakan dan bercanda, menghadirkan suasana hangat di tengah tenda-tenda darurat. Momen itu sejenak menghapus rasa takut anak-anak akibat bencana yang mereka alami.

Di antara deru mesin helikopter dan dinamika posko bencana, kebersamaan sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa tugas kemanusiaan tidak melulu soal logistik atau evakuasi. Ada kehadiran, kepedulian, dan upaya menghadirkan rasa aman bagi warga, terutama anak-anak.

Kadang, tugas kemanusiaan hadir dalam bentuk kecil—sekadar mengulurkan tangan, mengusap kepala seorang anak, atau membuat mereka kembali tersenyum. Bagi para polisi udara, tawa polos itu menjadi energi tambahan untuk kembali terbang melanjutkan misi berikutnya.

Kabagpenum Ropenmas Divhumas Polri, Kombes Pol Erdi A. Chaniago, menegaskan bahwa sentuhan kemanusiaan seperti itu merupakan bagian penting dari operasi Polri. “Para personel bukan hanya hadir untuk menjalankan tugas teknis, tetapi juga menghadirkan rasa tenang bagi masyarakat. Interaksi sederhana antara kru helikopter dan anak-anak menunjukkan bahwa Polri berupaya hadir secara menyeluruh—melindungi, menenangkan, dan menguatkan,” ujarnya, Sabtu (7/12).

Di tengah upaya pemulihan Aceh Tamiang, tawa anak-anak hari itu menjadi simbol harapan—sekaligus pengingat bahwa langkah-langkah kecil dapat memberikan arti besar bagi warga yang terdampak bencana. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *