bharindo.co.id Jakarta,- Pertumbuhan industri logam dasar kembali menjadi penopang penting manufaktur nasional. Sepanjang 2025, produksi baja Indonesia mencatat kenaikan dan menempatkan negeri ini sebagai produsen baja terbesar ke-13 di dunia. Data tersebut disampaikan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Mengacu pada World Steel Association, total produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1.849 juta ton, dengan Tiongkok masih mendominasi lebih dari separuh produksi global. Di tengah persaingan ketat industri baja dunia, Indonesia mencatat produksi 19 juta ton baja kasar, meningkat dibandingkan capaian 2024 yang berada di angka 18,6 juta ton.
“Kita menempati peringkat ke-13 dunia dengan produksi baja kasar 19 juta ton pada 2025. Ini naik dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Faisol.
Kinerja industri baja itu sejalan dengan laju industri pengolahan nonmigas yang tumbuh 5,58 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,04 persen. Di antara subsektor manufaktur, industri logam dasar menjadi yang paling agresif, dengan pertumbuhan mencapai 18,62 persen.
Tak hanya dari sisi produksi, subsektor logam dasar juga tampil dominan dalam arus investasi. Data Kementerian Investasi dan Penanaman Modal menunjukkan, sepanjang Januari–Desember 2025, industri logam dasar, barang logam, dan perlengkapannya menyerap investasi sebesar 14,6 miliar dolar Amerika Serikat, atau sekitar 26 persen dari total realisasi penanaman modal asing.
Namun, di balik kinerja yang menanjak, Faisol mengingatkan adanya ketergantungan struktural yang belum terurai. Konsumsi baja domestik masih bertumpu pada sektor konstruksi. Data World Steel Association dan East Asia and Pacific Economic Cooperation Agency (EECA) menunjukkan, 77,1 persen konsumsi baja nasional diserap sektor konstruksi.
“Ini menunjukkan industri baja kita masih sangat terkait dengan pembangunan infrastruktur dan properti,” kata Faisol.
Ketergantungan tersebut menjadi salah satu catatan dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI. Selain membahas capaian kinerja, rapat juga menyinggung strategi pemerintah memperkuat industri baja nasional ke depan, termasuk penyelamatan industri strategis seperti PT Krakatau Steel, penguatan struktur industri hulu-hilir, serta penataan kebijakan tata niaga perdagangan baja.
Hingga berita ini diturunkan, rapat dengar pendapat masih berlangsung dengan agenda pendalaman paparan dan pertukaran pandangan antara pemerintah dan anggota dewan. Bagi pemerintah, lonjakan produksi baja bukan sekadar capaian angka, melainkan pijakan awal untuk mendorong kemandirian industri logam nasional di tengah tekanan pasar global. (hnds***)
