Maret 28, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 21.44.20

Majalengka, bharindo.co.id – Proyek pemeliharaan jalan ruas baribis– Kasokandel di Kabupaten Majalengka yang menelan anggaran hampir Rp300 juta kini menuai sorotan tajam. Pekerjaan jalan sepanjang 1300 meter dengan bernilai Rp298.555.800.00

Sumber Dana dari OPSEN PKB Tahun Anggaran 2026 itu diduga kuat tidak sesuai dengan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, sehingga memunculkan indikasi penyimpangan teknis hingga potensi kerugian keuangan negara.

Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, sejumlah aspek teknis pekerjaan dinilai janggal dan tidak memenuhi standar konstruksi yang semestinya.

Pada pekerjaan jalan, material yang digunakan diduga bukan jenis batu berkualitas sesuai spesifikasi,
agregat , yang dinilai tidak layak untuk konstruksi jalan berstandar Bina Marga.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi ketahanan struktur jalan, sehingga berpotensi mempercepat kerusakan meski proyek baru saja dikerjakan.

Sorotan juga tertuju pada pekerjaan pelapisan Hot Rolled Sheet (HRS). Secara spesifikasi, ketebalan lapisan hotmix direncanakan 3 cm, namun fakta di lapangan diduga tidak mencapai ketebalan tersebut.

Menurut keterangan pekerja di lokasi mengungkapkan bahwa material hotmix yang digunakan hanya sekitar 7 dump truck, dengan kapasitas 10 ton per truk.

“Totalnya sekitar 70 ton hotmix yang dipakai,” ujar salah satu pekerja.

Jika mengacu pada dimensi proyek yakni panjang 1300 meter, lebar 3 meter, dan ketebalan 3 cm, maka kebutuhan hotmix seharusnya mencapai sekitar 90 ton.
7 x 10 ton hotmik cuma 70 ton di duga korupsi 20 ton .
20 ton x Rp .1.700.000 =Rp .34.000.000 di duga hilang

Artinya, jika benar hanya digunakan 70 ton, terdapat selisih sekitar 20 ton material yang tidak jelas penggunaannya.

Seorang pemerhati kebijakan publik yang enggan disebutkan namanya menilai selisih tersebut berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara, apabila dihitung berdasarkan Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Dinas PUTR Kabupaten Majalengka.

“Perbedaan volume material ini tidak bisa dianggap sepele. Jika benar terjadi pengurangan, tentu ada potensi kerugian negara yang harus ditelusuri,” ujarnya.
Ada langkah – langkah awal yang harus di tempuh yaitu :
1.sebekum gelar hot mix harus trial compaction dulu untuk sampel gelaran berikutnya lalu di coring untuk menentukan ketebalan dan density (kekuatan) gelaran hot mix.
2. Suhu hot mix harus 130 Drajat.
3. Gelar hot mix harus 3, 6 kondisi gembur
4. Sebelum gelar hot mix di atas agregat halus di bersih kan menggunakan kompresor.
Langkah – langkah tersebut tidak di pakai menurut pengakuan pelaksanaan atau pemborong dr CV.Dwi Anjani.

Saat dikonfirmasi, direktur CV.Dwi Anjani mengaku itu kesalahan dan memberikan keterangan nanti ada perbaikan karena masih masa pemeliharaan padahal bukan masalah perbaikan spesifikasi sama kualitasnya yang harus di utamakan .

Sejumlah pihak kini mendesak Kepala Dinas PUTR Majalengka serta Inspektorat Daerah untuk segera turun langsung ke lapangan guna memeriksa kondisi proyek tersebut.

Pasalnya, proyek infrastruktur yang bersumber dari uang negara tidak boleh dikerjakan secara asal-asalan atau bahkan diduga dimanipulasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Padahal sebelumnya, Bupati Majalengka telah menegaskan pentingnya peran pengawasan proyek di lapangan, karena kualitas sebuah pembangunan sangat bergantung pada ketatnya pengawasan.

Namun dalam kasus proyek baribis – Kasokandel ini, peringatan tersebut seolah tidak diindahkan, sehingga memicu kecurigaan publik terhadap kualitas pekerjaan yang sedang berlangsung.

Jika dugaan ini benar, maka proyek yang seharusnya menjadi akses vital masyarakat justru bisa berubah menjadi bom waktu kerusakan di kemudian hari.(Yt’s )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *