Februari 10, 2026
image - 2025-12-13T184058.894

bharindo.co.id Badung,- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melalui Direktorat Pencegahan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Badung, Satuan Intelkam Polres Badung, serta Fast Respon Indonesia Counter Polri Wilayah Bali menggelar sosialisasi bertajuk “Radikalisme dan Kekerasan pada Pelajar” di SMA Negeri 1 Kuta Utara.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.400 peserta yang terdiri atas guru serta siswa dan siswi SMA Negeri 1 Kuta Utara. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pelajar dan tenaga pendidik mengenai bahaya radikalisme, kekerasan, serta perilaku menyimpang di lingkungan sekolah.

Kepala SMA Negeri 1 Kuta Utara, I Gusti Nyoman Naranata, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan kolaboratif tersebut.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan kolaborasi ini,” ujarnya.

Dalam sosialisasi tersebut, materi juga membahas isu perundungan (bullying), mulai dari pengertian, jenis-jenis bullying, konsekuensi hukum, hingga dampak psikologis yang ditimbulkan bagi korban. Kasat Intelkam Polres Badung AKP I Gusti Lanang Jelantik, S.H., menjelaskan bahwa bullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara berulang oleh individu maupun kelompok terhadap pihak yang dianggap lebih lemah.

“Bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara berulang oleh satu orang atau sekelompok orang terhadap orang lain yang dianggap lebih lemah,” katanya.

Selain itu, Tim Pencegahan Densus 88 AT Polri juga memaparkan fenomena anak di bawah umur yang terpapar paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme Terorisme (IRET), serta ajaran fanatisme yang mengarah pada kekerasan. Materi tersebut menekankan pentingnya membentengi diri dengan pemahaman agama yang moderat serta memperkuat nilai kebangsaan.

“Penting bagi pelajar untuk memperkuat diri dengan wawasan agama yang baik dan mempedomani empat pilar kebangsaan,” ujar Briptu Lalu Fendi Irawan.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki kesadaran dan ketahanan diri dalam menghadapi pengaruh negatif yang dapat mengarah pada radikalisme, kekerasan, maupun perilaku intoleran di lingkungan sekolah dan masyarakat. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *