Januari 13, 2026
image - 2026-01-13T133449.037

bharindo.co.id Balikpapan,- Balikpapan kembali menjadi panggung sejarah energi nasional. Presiden Prabowo Subianto meresmikan Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) Refinery Unit V Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Proyek raksasa ini menandai beroperasinya kilang minyak terbesar di Indonesia, sekaligus menjadi simbol tekad pemerintah melepaskan diri dari ketergantungan impor bahan bakar minyak.

“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, Senin 12 Januari 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan,” ujar Presiden Prabowo dalam seremoni peresmian.

Bagi Prabowo, momen ini memiliki arti khusus. Ia mengingatkan bahwa peresmian kilang terakhir dilakukan pada 1994—lebih dari tiga dekade silam. Karena itu, RDMP Balikpapan dipandang sebagai tonggak penting kebangkitan sektor energi nasional.

“Saya menyambut peresmian ini dengan rasa bahagia dan optimisme besar, karena ini akan mengurangi ketergantungan kita pada impor BBM,” kata Prabowo.

Presiden menegaskan bahwa Indonesia sesungguhnya dianugerahi sumber daya energi yang melimpah—mulai dari kelapa sawit untuk biodiesel, panas bumi, tenaga surya, hingga tenaga air. Tantangannya bukan pada ketersediaan, melainkan pada keberanian dan kesungguhan mengelolanya.

“Kita tidak boleh tergantung energi kita dari luar. Kita ingin merdeka dan kita mampu. Kita miliki semua, diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa,” ujar Prabowo, menekankan visi kedaulatan energi sebagai bagian dari kedaulatan bangsa.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadahlia menyebut RDMP Balikpapan sebagai proyek kilang terbesar yang pernah dibangun di Indonesia. Dengan total investasi sekitar Rp123 triliun, proyek ini dirancang untuk memodernisasi kilang eksisting sekaligus meningkatkan kapasitas dan kualitas pengolahan minyak.

RDMP Balikpapan memungkinkan kilang mengolah hingga 360 ribu barel minyak per hari, setara dengan 22–25 persen kebutuhan nasional. Angka itu menjadikannya tulang punggung baru pasokan energi Indonesia.

Dampak ekonominya pun tak kecil. Pemerintah memperkirakan proyek ini mampu menghemat impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun, serta memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional hingga Rp514 triliun. Dari sisi industri, RDMP Balikpapan mendorong hilirisasi petrokimia dan memperkuat ekosistem energi dalam negeri.

Tak hanya soal kapasitas, kualitas juga menjadi kata kunci. Kilang ini ditargetkan menghasilkan BBM berstandar Euro V dengan kandungan sulfur 10 ppm—lonjakan signifikan dari standar Euro II yang masih berlaku sebelumnya. Yield produk bernilai tinggi juga ditingkatkan hingga 91,8 persen.

Produk yang dihasilkan mencakup BBM, elpiji, hingga petrokimia—menjadikan RDMP Balikpapan sebagai infrastruktur energi terintegrasi yang strategis.

Peresmian kilang ini bukan sekadar seremoni pembangunan fisik. Ia adalah pernyataan politik dan ekonomi: bahwa Indonesia ingin berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan energi. Di Balikpapan, pemerintah menyalakan kembali api lama—cita-cita swasembada energi—yang kini dikemas dalam skala, teknologi, dan keberanian yang jauh lebih besar. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *