Februari 26, 2026
WhatsApp Image 2026-01-14 at 11.55.47

bharindo.co.id Jakarta,- Di saat sebagian pejabat sibuk menjaga wibawa palsu dan takut terlihat “turun kelas”, Pimpinan Bhayangkara Indonesia justru tampil menantang arus. Dengan nada tegas dan tanpa basa-basi, ia menyatakan tidak pernah malu beternak, meski menyandang pangkat dan jabatan.

“Saya beternak. Dan saya tidak malu. Karena pangkat dan jabatan itu hanya titipan, bukan identitas abadi,” ujarnya lugas.

Pernyataan ini secara tidak langsung menampar keras budaya elitis yang selama ini melekat pada jabatan. Menurutnya, banyak orang terjebak ilusi kekuasaan—merasa tinggi karena kursi, merasa mulia karena seragam, lalu lupa bagaimana caranya bekerja dengan tangan sendiri.

“Kalau jabatan dilepas hari ini, apa yang tersisa? Gengsi atau kemampuan hidup?” katanya, menyentil.
Ia menegaskan bahwa beternak adalah simbol perlawanan terhadap mental feodal dan ketergantungan. Sebuah kerja nyata yang menuntut disiplin, konsistensi, dan kejujuran—nilai yang sering justru hilang di ruang-ruang kekuasaan.

Lebih jauh, ia menyebut bahwa rasa malu bekerja di sektor riil adalah penyakit sosial, dan penyakit itu berbahaya bagi bangsa. Ketika pemimpin alergi pada kerja produktif, rakyatlah yang menanggung akibatnya.

“Saya tidak hidup dari pangkat. Pangkat itu bisa dicabut. Jabatan bisa berakhir. Tapi kemampuan menghidupi diri dan memberi manfaat, itu tidak bisa dicabut oleh siapa pun,” tegasnya.

Pernyataan ini memicu perbincangan luas. Di satu sisi, ada yang terus terjebak dalam simbol kekuasaan. Di sisi lain, muncul sosok yang dengan sadar berkata: lebih baik berkeringat di kandang ternak daripada bersembunyi di balik jabatan kosong.

Pesannya jelas dan keras: ”jabatan tanpa karya adalah ilusi, gengsi tanpa kerja adalah kehampaan. Dan di tengah bangsa yang rindu keteladanan, suara ini terdengar seperti peringatan: turun ke tanah bukan kehinaan—itu keberanian.” (hnds***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *