Februari 10, 2026
image - 2026-01-10T082601.679

bharindo.co.id Sorong,- Penyebaran paham intoleran, radikal, dan teroris (IRT) melalui media sosial kian menjadi ancaman nyata, terutama bagi generasi muda. Platform digital yang semula dirancang sebagai ruang berekspresi kini tak jarang berubah menjadi medium propaganda, menyasar pelajar yang masih rentan secara psikologis dan ideologis. Fenomena inilah yang menjadi perhatian serius Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88 AT) Polri.

Di Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Tim Pencegahan Densus 88 AT Polri hadir langsung menyapa pelajar dan guru SMK Modelink melalui kegiatan Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) yang digelar Kamis (8/1/2026). Sekitar 130 peserta, terdiri dari siswa-siswi dan dewan guru, mengikuti kegiatan yang dimulai sejak pukul 10.00 WIT itu.

Dalam forum tersebut, Tim Pencegahan Densus 88 AT Polri—yang terdiri dari IPDA M. Arfa Jaya, S.H., Briptu Halim Hanafi, S.H., dan Briptu Iqro Anggi Permadani—memaparkan berbagai pola dan modus penyebaran paham IRT di ruang digital. Media sosial, aplikasi pesan instan, hingga konten daring bernuansa provokatif disebut kerap menjadi pintu masuk indoktrinasi, dengan remaja sebagai sasaran utama.

“Media sosial hari ini bukan hanya ruang berekspresi, tetapi juga dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda. Karena itu, siswa harus memiliki literasi digital dan sikap kritis agar tidak mudah terpengaruh konten menyesatkan,” ujar salah satu narasumber dari Tim Pencegahan Densus 88 AT Polri.

Namun, pencegahan tak cukup hanya menyasar pelajar. Tim juga menyoroti peran strategis dewan guru sebagai garda terdepan di lingkungan sekolah. Guru didorong untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa, memperkuat pembinaan karakter, serta melakukan deteksi dini terhadap indikasi paparan paham ekstrem.

Kegiatan berlangsung interaktif. Sesi tanya jawab membuka ruang bagi siswa dan guru untuk berbagi pengalaman tentang penggunaan media sosial dalam keseharian mereka—dari sekadar hiburan hingga paparan konten yang memicu kebingungan dan keresahan.

Sosialisasi ini menegaskan satu hal: ancaman radikalisme tak lagi datang secara kasat mata, melainkan menyusup halus lewat layar gawai. Di tengah derasnya arus informasi digital, sinergi antara aparat, sekolah, dan keluarga menjadi kunci untuk memastikan ruang pendidikan tetap aman, kritis, dan bebas dari pengaruh paham intoleran, radikal, dan teroris, khususnya di wilayah Kabupaten Sorong. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *