Februari 8, 2026
WhatsApp Image 2026-02-03 at 20.56.53

bharindo.co.id Trenggalek,— Di tengah sorotan publik terhadap kinerja aparatur desa, Kepala Desa Ngadirejo, Kecamatan Pogalan, Musroni, memilih berdiri di garis depan dengan satu pesan tegas: jabatan adalah amanah, bukan sekadar status. Bagi Musroni, kepala desa adalah pelayan masyarakat yang harus hadir sejak pagi hingga malam.

Pernyataan itu disampaikannya saat ditemui di Balai Desa Ngadirejo, Selasa (3/2/2026). Sosok yang akrab disapa Mas Roni ini dikenal memiliki tingkat kedisiplinan tinggi. Hampir setiap hari, ia sudah berada di kantor desa sejak pagi untuk memastikan roda pemerintahan berjalan optimal, sekaligus mengawasi langsung kinerja perangkat desa.

Tak banyak yang tahu, sebelum menjalankan tugas sebagai kepala desa, Musroni lebih dulu melayani masyarakat melalui jalur lain. Ia juga dikenal sebagai praktisi pengobatan alternatif yang membuka layanan sejak usai salat Subuh hingga pukul 07.00 WIB, sebelum kemudian beralih mengenakan “topi” kepala desa.

Metode pengobatan yang dijalankannya beragam, mulai dari pijat tradisional, ramuan jamu berbahan rempah, hingga doa-doa. Pasien yang datang tak hanya berasal dari Trenggalek, tetapi juga dari luar daerah, dengan keluhan medis maupun nonmedis. Praktik pengobatan tersebut kembali dibuka pada sore hingga malam hari setelah tugas pemerintahan selesai.

Dalam perbincangan dengan awak media, Musroni juga memaparkan arah kebijakan pembangunan ekonomi desa. Salah satu fokus utama adalah program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang tengah disiapkan pemerintah desa.

“Pemerintah desa sejak awal mempersiapkan lahan sekitar 1.000 meter persegi di lokasi strategis yang padat permukiman. Tanah itu aset desa, jadi tidak diserahkan, tapi dipersiapkan agar KDMP bisa berjalan dan benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Musroni.

Selain KDMP, Desa Ngadirejo juga telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak di bidang pengeringan padi. Menurut Musroni, usaha KDMP ke depan akan dibedakan dengan unit usaha BUMDes agar tidak saling tumpang tindih.

“BUMDes sudah punya pengeringan padi karena wilayah persawahan kita luas. Di KDMP nanti usaha lain, supaya saling menguatkan,” katanya.

Sebagai penasihat BUMDes, Musroni menegaskan bahwa pengelolaan honor dan pembagian hasil usaha dilakukan sesuai aturan AD/ART dan dibagikan setelah penghitungan Sisa Hasil Usaha (SHU). Ia pun mengingatkan perangkat desa agar menyikapi setiap kebijakan dengan prosedur yang benar dan tidak merasa terbebani.

Sekretaris Desa Ngadirejo, Arif, membenarkan kedisiplinan kepala desanya. Menurutnya, Musroni kerap menjadi contoh nyata bagi perangkat desa dalam bekerja.

“Pak Lurah ini disiplin sekali. Datang pagi, pulang setelah semua pekerjaan selesai. Habis Subuh sudah melayani pasien, pulang kantor masih mencari rumput untuk ternaknya, malam kalau ada pasien juga tetap melayani,” ujar Arif.

Ia menambahkan, Musroni kerap mengingatkan jajarannya bahwa aparatur desa adalah pelayan masyarakat yang harus bekerja dengan keikhlasan dan penuh tanggung jawab.

“Beliau sering bilang, kita ini pelayan masyarakat, jadi harus amanah,” pungkas Arif.

Di tengah dinamika pemerintahan desa, Musroni memilih jalan sunyi: bekerja tanpa banyak sorotan, melayani tanpa batas waktu. Sebuah potret kepemimpinan desa yang menempatkan pengabdian di atas segalanya. (wdys***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *