Maret 14, 2026
WhatsApp Image 2026-03-12 at 09.54.12

Lampung Timur bharindo.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi upaya peningkatan gizi bagi anak-anak sekolah kini justru memunculkan tanda tanya di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur.

Penyaluran menu MBG untuk siswa TK Pertiwi 1 Desa Rajabasa Lama menjadi sorotan setelah muncul dugaan ketidaksesuaian antara nilai anggaran dan makanan yang diterima peserta didik.

Sejumlah wali murid TK pertiwi 1 mengaku terkejut ketika melihat menu yang dibagikan kepada anak-anak mereka. Menu tersebut dinilai sangat sederhana dan dianggap tidak mencerminkan nilai anggaran MBG untuk siswa TK yang disebut berada di kisaran Rp8.000 per porsi.

Penelusuran jurnalis pada pembagian menu MBG Rabu, 11 Maret 2026, menemukan bahwa makanan yang diberikan kepada siswa TK hanya terdiri dari beberapa item makanan.

Saat dimintai keterangan, mitra dapur MBG Labuhan Ratu 6 berinisial IWN memaparkan rincian nilai bahan baku menu yang disiapkan pada hari tersebut.

Menurut IWN, satu porsi menu terdiri dari:

* Jeruk jenis BW 1 buah : Rp2.000
* Tempe 1 potong : Rp750
* Tahu 1 potong : Rp750
• Ayam 1 potong : Rp3.000
Jumlah. ; 6500

Nilai tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, karena masih terdapat selisih dari anggaran yang disebut mencapai Rp8.000 per porsi untuk siswa TK.

Roti Tambahan Disebut Ada, Namun Tak Diterima Siswa

Setelah muncul protes dari sejumlah wali murid terkait menu yang dianggap tidak sebanding dengan nilai anggaran, pihak mitra dapur kemudian menyebut bahwa pada hari yang sama terdapat penambahan roti Marie sebagai bagian dari menu.

“Memang ada tambahan roti Marie senilai sekitar Rp2.000 per porsi, yang akan di salurkan besok (kamis 12/03/2026)” kata IWN.

Namun fakta di lapangan justru memunculkan cerita berbeda.

Informasi yang dihimpun jurnalis dari beberapa wali murid serta pihak sekolah menyebutkan bahwa roti Marie yang disebut sebagai tambahan menu tersebut tidak diterima oleh siswa TK Pertiwi 1 saat pembagian makanan berlangsung.

Perbedaan keterangan ini kemudian memunculkan pertanyaan serius di kalangan wali murid mengenai transparansi distribusi menu MBG.

“Kalau memang ada tambahan roti, kenapa anak-anak tidak menerimanya,yang seharusnya berbarengan dengan menu lainnya” ujar salah satu wali murid yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Informasi Insentif Kepala Sekolah Ikut Mencuat

Penelusuran lebih lanjut juga dilakukan kepada Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Labuhan Ratu, berinisial KUR.

Dalam keterangannya, KUR membenarkan nilai pembelanjaan bahan baku yang relatif serupa dengan yang dijelaskan pihak mitra dapur.

Namun dalam penjelasan tersebut juga muncul informasi lain yang turut memancing perhatian publik, yakni mengenai adanya insentif bagi kepala sekolah dalam pelaksanaan program MBG.

Menurut KUR, besaran insentif tersebut bergantung pada jumlah siswa penerima manfaat program.

“Jika jumlah siswa sekitar 100 orang, kepala sekolah menerima sekitar Rp20.000 per hari. Jika lebih dari 100 siswa, maka sekitar Rp30.000 per hari,” jelasnya.

Insentif tersebut disebut berkaitan dengan penggunaan ompreng atau wadah makanan, dan biasanya diakumulasikan serta dibayarkan setiap dua minggu sekali.

Lebih lanjut KUR juga menjelaskan bahwa dapurnya: mempunyai tanggung jawab untuk mendistribusikan ke 16 sekolah, darintingkat TK hingga sekolah menengah ke atas.

Yang lebih mengejutkan lagi KUR memberikan keterangan bahwa dapurnya menyalurkan MBG ke sekolah MADA (madrasah darul amal) yang di duga sekolahan tersebut tidak memiliki siswa/siswi yang belajar di sekolahan tersebut.

sampai saat berita ini dibtetbitkan pihak sekolah MADA belum bisa dimintai keterangan atau dikonfirmasi.

Publik Pertanyakan Transparansi Program ;

Munculnya sejumlah informasi tersebut – mulai dari selisih nilai menu, tambahan makanan yang disebut tidak diterima siswa, hingga mekanisme insentif di tingkat pelaksana – memicu pertanyaan publik mengenai transparansi pelaksanaan program MBG di tingkat lapangan.

Program MBG sendiri merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah sebagai generasi penerus bangsa.

Karena itu, sejumlah wali murid berharap adanya klarifikasi terbuka dari pihak terkait agar tidak muncul spekulasi yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.

Harapan wali murid ;

Kapada berbagai pihak di Lampung Timur diharapkan dapat memberikan penjelasan lebih lanjut guna memastikan pelaksanaan program MBG berjalan transparan, akuntabel, dan benar-benar berorientasi pada pemenuhan gizi bagi siswa.

“Terutama kepada bapak.camat labuhan ratu untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dan diharapkan bisa turun tangan,untuk melakukan monitoring terhadap dapur MBG yang.agar apa yang menjadi tujuan MBG bisa terlaksana sesuai dengan aturan aturan yang telah dintentukan.
Tutup salah satu wali murid tak pertiwi’

“Rf”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *