April 16, 2026
WhatsApp Image 2026-04-01 at 07.05.00

Majalengka, bharindo.co.id –  Proyek pemeliharaan jalan kehutanan di Kabupaten Majalengka yang menelan anggaran hampir ± Rp.300 juta kini menuai sorotan tajam.
Pekerjaan jalan sepanjang 91,99 meter dengan nilai anggaran Rp.298.096.900.00
Tahun Anggaran 2026 itu diduga kuat tidak sesuai dengan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, sehingga memunculkan indikasi penyimpangan teknis hingga potensi kerugian keuangan negara.

Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, sejumlah aspek teknis pekerjaan dinilai janggal dan tidak memenuhi standar konstruksi yang semestinya.

Pada pekerjaan jalan tersebut material atau agregat yang digunakan
di duga tidak layak untuk konstruksi jalan berstandar Bina Marga.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi ketahanan struktur jalan, sehingga berpotensi mempercepat kerusakan meski proyek baru saja dikerjakan.

Sorotan juga tertuju pada pekerjaan pelapisan Hot Rolled Sheet (HRS). Secara spesifikasi, ketebalan lapisan hotmix direncanakan 3 cm, namun fakta di lapangan diduga tidak mencapai ketebalan tersebut.

Menurut keterangan pekerja di lokasi mengungkapkan bahwa material hotmix yang digunakan hanya sekitar 8 dump truck, dengan kapasitas 10 ton per dam truk.

“Totalnya sekitar 80 ton hotmix yang dipakai,” ujar salah satu pekerja.

Jika mengacu pada dimensi proyek yakni panjang 91,99 – 80 ton = 11,99 ton .
11,99 ton x Rp .1.983.571,43 =Rp .23.783.021 di duga hilang tidak di terapkan

Artinya, jika benar hanya digunakan 80 ton, terdapat selisih sekitar 11,99 ton yang tidak jelas penggunaannya.

Seorang pemerhati kebijakan publik yang enggan disebutkan namanya menilai selisih tersebut berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara, apabila dihitung berdasarkan Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Dinas PUTR Kabupaten Majalengka.

“Perbedaan volume material ini tidak bisa dianggap sepele. Jika benar terjadi pengurangan, tentu ada potensi kerugian negara yang harus ditelusuri,” ujarnya.
Ada langkah – langkah awal yang harus di tempuh yaitu :
1.sebelum gelar hot mix harus trial compaction dulu untuk sampel gelaran berikutnya lalu di coring untuk menentukan ketebalan dan density (kekuatan) gelaran hot mix.
2. Suhu hot mix harus 130 Drajat.
3. Gelar hot mix harus 3, 6 kondisi gembur
4. Sebelum gelar hot mix di atas agregat halus di bersih kan menggunakan kompresor.
Langkah – langkah tersebut tidak semua di pakai menurut pengakuan pekerja .

Saat dikonfirmasi, pelaksana CV. INTIRAYA enggan memberikan keterangan ketika di komfirmasi terkait pelaksanaan proyek tersebut .
masalahnya spesifikasi sama kualitasnya yang harus di utamakan .

Sejumlah pihak kini mendesak Kepala Dinas PUTR Majalengka serta Inspektorat Daerah untuk segera turun langsung ke lapangan guna memeriksa kondisi proyek tersebut.

Pasalnya, proyek infrastruktur yang bersumber dari uang negara tidak boleh dikerjakan secara asal-asalan atau bahkan diduga dimanipulasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Padahal sebelumnya, Bupati Majalengka telah menegaskan pentingnya peran pengawasan proyek di lapangan, karena kualitas sebuah pembangunan sangat bergantung pada ketatnya pengawasan.

Namun dalam kasus proyek pemeliharaan jalan kehutanan ini, peringatan tersebut seolah tidak diindahkan, sehingga memicu kecurigaan publik terhadap kualitas pekerjaan yang sedang berlangsung.

Jika dugaan ini benar, maka proyek yang seharusnya menjadi akses vital masyarakat justru bisa berubah menjadi bom waktu kerusakan di kemudian hari.(Yt’s )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *