Februari 28, 2026
WhatsApp Image 2026-02-20 at 21.09.45

bharindo.co.id Minut,- Kemunculan seekor buaya di sekitar kawasan PLTU Kema, tepatnya di Pantai Firdaus, Desa Kema Dua, mendadak membuat geger warga pesisir! Hewan predator tersebut dilaporkan terlihat di sekitar bibir pantai dan menimbulkan keresahan luas di tengah masyarakat.

Informasi awal beredar melalui media sosial sejak 17 Februari 2026. Setelah menerima laporan masyarakat serta rekaman CCTV dari area PLTU Kema, awak media bersama Kapolsek dan anggota Polsek Kema langsung turun ke lokasi pada Jumat (20/2/2026) untuk memastikan kondisi di lapangan.

Kapolsek Kema, AKP Repy Samel, mengungkapkan bahwa kemunculan buaya tersebut terjadi pada 16 Februari 2026 dan sempat diabadikan dari jarak sekitar 70 meter dari bibir pantai.

“Kami telah memanggil pemilik akun media sosial untuk klarifikasi. Memang benar ada kemunculan buaya. Kami sudah berkoordinasi dengan kepala desa untuk membuat pengumuman agar masyarakat waspada dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tegas Kapolsek.

Pihak kepolisian juga mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi nelayan dan pengunjung pantai.

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Kema Dua, Danny Muntu, menyampaikan kekhawatiran masyarakat atas dampak kemunculan buaya terhadap aktivitas warga dan sektor pariwisata.

“Sebagai masyarakat pastinya merasa resah. Kami berharap pemerintah dan TNI-Polri bisa bersinergi mencari solusi terbaik agar buaya ini bisa ditangkap atau diamankan. Pantai Firdaus ini adalah destinasi wisata. Kalau pengunjung berkurang, lapak-lapak di sini juga terdampak,” ujarnya penuh harap.

Pantai Firdaus sendiri dikenal sebagai salah satu titik wisata favorit di Kecamatan Kema, sehingga isu ini langsung menyita perhatian publik.

Hingga saat ini, aparat bersama pemerintah desa terus melakukan pemantauan dan mengimbau warga untuk tidak beraktivitas terlalu dekat dengan garis pantai sampai situasi benar-benar aman.

Kemunculan buaya di wilayah pesisir bukan kali pertama terjadi di beberapa daerah, namun tetap menjadi ancaman serius jika tidak segera ditangani. (edis***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *