November 30, 2025
image (85)

bharindo.co.id Jakarta,— Wakapolri Komjen Pol Prof. Dr. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa pembentukan pusat-pusat studi baru di lingkungan STIK–Lemdiklat Polri merupakan langkah visioner untuk memperkuat fondasi akademik kepolisian Indonesia di tengah dinamika keamanan global yang semakin kompleks.

Dalam pemaparannya, Wakapolri menyebut kebijakan berbasis riset (evidence-based policing) sudah menjadi standar di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, New Zealand, Australia, hingga Cina. Pusat kajian di negara-negara tersebut, ujarnya, telah berkembang menjadi laboratorium kebijakan publik yang menghasilkan solusi strategis bagi tantangan keamanan modern.

“Hari ini bukan sekadar acara seremonial biasa, tetapi langkah visioner untuk memperkuat landasan pengetahuan Polri di tengah dinamika keamanan yang makin kompleks,” ujar Komjen Dedi.

Ia menjelaskan bahwa lingkungan strategis kini berubah sangat cepat. Kejahatan siber semakin canggih, kejahatan transnasional makin variatif, berkembangnya radikalisme, serta meningkatnya arus disinformasi menjadi ancaman nyata yang harus direspons secara ilmiah. Sementara itu, tuntutan publik terhadap transparansi dan akuntabilitas terus meningkat.

“Kebijakan strategis Polri harus dibangun dari data yang kuat dan analisis riset yang tajam. Riset itu fondasi dari setiap solusi dan kebijakan,” tegasnya.

Sebagai komitmen transformasi, Polri terus mengembangkan berbagai pusat studi yang diproyeksikan menjadi laboratorium kebijakan publik. Pusat-pusat tersebut akan menghasilkan kajian strategis, pemetaan ancaman, evaluasi program, hingga formulasi kebijakan presisi sesuai arah akselerasi transformasi Polri.

Wakapolri turut memaparkan delapan arah akselerasi transformasi Polri, mencakup transformasi organisasi, pelayanan publik, operasional, pengawasan, serta dukungan transformasi di bidang kehumasan, teknologi informasi, pendidikan dan SDM, serta sektor terkait lain yang terus diperluas.

Pada kesempatan tersebut, Polri resmi memperkenalkan tiga pusat studi baru: Pusat Studi Hukum, Pusat Studi Kehumasan, dan Pusat Studi Pasifik–Oseania. Ketiganya melengkapi enam pusat studi yang telah lebih dulu dibentuk, seperti pusat studi antikorupsi, terorisme, cyber, ilmu kepolisian, pemolisian masyarakat, dan keamanan lintas sektoral.

Dari seluruh pusat studi yang ada, Wakapolri menekankan pentingnya kajian terkait sumber daya manusia (SDM). Mengelola sekitar 481 ribu personel—jumlah terbesar kedua di dunia setelah Cina—Polri membutuhkan standar kualitas SDM yang tinggi sebagai prasyarat perubahan institusi.

“Tidak ada organisasi hebat tanpa sumber daya manusia yang hebat. Itu hukum alam organisasi. Karena itu pusat kajian SDM sangat penting untuk membuka wawasan, membangun kapasitas, dan memperkuat profesionalitas personel Polri,” tutur Komjen Dedi.

Selain itu, Polri tengah menyiapkan pusat studi forensik, baik kedokteran maupun digital forensik, serta pusat studi teknologi kepolisian yang mengarah kepada pengembangan industri keamanan nasional. Wakapolri menekankan bahwa perkembangan teknologi harus dibarengi riset dan inovasi yang berkelanjutan.

Dalam bidang kerja sama internasional, Polri telah menggandeng 43 universitas dalam negeri dan berbagai institusi pendidikan kepolisian luar negeri, termasuk New Zealand Police College, serta mengirim personel belajar melalui program LPDP ke Glasgow dan sejumlah universitas kelas dunia.

Seluruh pembangunan pusat studi ini, menurut Wakapolri, merupakan bagian dari langkah besar menjadikan STIK–PTIK sebagai universitas kepolisian modern yang adaptif, terbuka, dan berstandar internasional.

“Kita tidak bisa membiarkan STIK–PTIK stagnan. Dengan akselerasi yang tepat, STIK–PTIK dapat berkembang menjadi universitas kepolisian yang melahirkan kajian ilmiah hebat dan SDM Polri yang unggul. Ini modal kita untuk masa depan Polri dan masa depan Indonesia,” pungkasnya. (ils78***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *