Februari 26, 2026
image (87)

bharindo.co.id Bogor, 12 November 2025 — Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M. menegaskan bahwa Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Polri harus benar-benar urip — hidup, dinamis, dan menjadi api perubahan Polri.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakapolri saat melakukan kunjungan kerja ke Puslitbang Polri di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Rabu (12/11/2025). Kegiatan itu merupakan bagian dari langkah percepatan transformasi organisasi pasca dibentuknya Komisi Percepatan Reformasi Polri oleh Presiden Jenderal (Purn.) Prabowo Subianto.

“Mengapa lembaga pertama yang dikunjungi Komisi Reformasi adalah Puslitbang? Karena perbaikan Polri harus dimulai dari riset, dari lembaga yang mampu menguji setiap gagasan dan kebijakan secara ilmiah,” tegas Komjen Dedi.
“Riset adalah fondasi perubahan. Tanpa data dan ilmu pengetahuan, reformasi hanya akan menjadi slogan. Puslitbang harus menjadi laboratorium kebijakan dan kompas arah perubahan Polri.”

Dalam arahannya, Wakapolri menekankan bahwa reformasi sejati lahir dari data dan fakta lapangan, bukan sekadar keputusan rapat atau persepsi publik.
“Puslitbang harus urip, harus hidup dan turun. Hadir di tengah masyarakat, di ruang pelayanan, dan di tempat anggota bertugas. Riset tidak boleh berhenti di laboratorium — ia harus menyentuh realitas dan mendengar keluhan publik,” ujarnya.

Usai memberikan arahan di Puslitbang, Wakapolri melakukan uji petik pelayanan publik di Polsek Tajurhalang, Kabupaten Bogor, untuk meninjau langsung kinerja dan sistem pelayanan kepolisian di tingkat dasar.

“Kita jadi tahu bagaimana alur pelayanan publik berjalan, bagaimana laporan diterima dan pengaduan ditindaklanjuti. Masalah bukan hanya di personel, tapi juga pada alur pelayanan, penganggaran, dan pembagian tugas. Ini yang harus dibenahi,” kata Komjen Dedi.

Wakapolri menegaskan, ke depan Puslitbang harus menjadi pengawal reformasi Polri secara berkelanjutan.
“Setiap kebijakan harus melalui riset, pengujian, dan evaluasi agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan membawa dampak nyata bagi masyarakat. Perbaikan Polri harus terukur — harus ada data, baseline, dan indikator yang jelas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Komjen Dedi menggambarkan Puslitbang sebagai “api perubahan Polri” — sumber energi yang menjaga semangat reformasi tetap menyala di seluruh jajaran.
“Kalau Puslitbang hidup, Polri bergerak. Kalau Puslitbang menyala, reformasi berjalan. Api perubahan itu harus dijaga, agar semangat membenahi institusi tidak padam,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kapuslitbang Polri Brigjen Pol. FX. Surya Kumara, S.H., M.H. menyampaikan komitmennya untuk menindaklanjuti arahan Wakapolri.
“Kami akan segera menindaklanjuti setiap perintah dan menjadikan semangat Wakapolri sebagai bara yang menghidupkan Puslitbang untuk terus berkontribusi dalam perubahan Polri berbasis riset dan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Wakapolri juga meninjau Laboratorium Elektronika, Alpalhankam, Persenjataan, dan Transportasi yang menjadi sarana pengujian perlengkapan operasional Polri. Fasilitas tersebut dinilai sudah sangat maju dan berpotensi besar untuk mendukung pengujian alat serta teknologi berbasis digital dan empati sosial.

Kunjungan ini menjadi simbol bahwa reformasi Polri kini bergerak dengan pendekatan ilmiah dan empiris, menjadikan Puslitbang bukan hanya laboratorium alat, tetapi pusat riset kebijakan publik kepolisian yang menyalakan bara perubahan di seluruh lini organisasi.

“Puslitbang adalah api perubahan Polri. Dari sinilah bara reformasi itu dijaga agar terus menyala,” tutup Wakapolri. (ils78***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *