April 28, 2026
WhatsApp Image 2026-04-26 at 23.50.57

Majalengka, bharindo.co.id –  Proyek pemeliharaan jalan yang menghubungkan Simpeureum hingga Manjeti kini menuai sorotan tajam. Dugaan adanya “permainan” dalam pelaksanaan pekerjaan mencuat, mulai dari pengurangan volume hingga kualitas pengerjaan yang dinilai jauh dari standar.

Proyek dengan nilai anggaran Rp199.060.800 yang dikerjakan oleh CV. Putra Cikal Mandiri sejak 13 Maret 2026 itu semestinya menggunakan material hotmix (Hotmik Lataston Lapis Aus/HRS) sebanyak 61,05 ton. Perhitungan ini mengacu pada spesifikasi teknis: panjang 365 meter, lebar 2,5 meter, dan ketebalan 3 cm.

Hasil investigasi gabungan media Bharindo, JI TV, dan Next News menemukan dugaan ketidaksesuaian yang cukup mencolok. Ketebalan aspal yang terpasang disebut hanya sekitar 2 cm—lebih tipis dari standar yang ditetapkan. Dampaknya, volume material yang digunakan diperkirakan hanya sekitar 40,7 ton atau dibulatkan menjadi 41 ton.

Artinya, terdapat selisih sekitar 20 ton material yang diduga tidak terealisasi di lapangan.

Temuan ini memicu tanda tanya besar. Apakah ini sekadar kelalaian teknis, atau ada indikasi pengurangan yang disengaja?

Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi jalan yang baru selesai diperbaiki itu kini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kualitas pekerjaan tidak maksimal akibat berkurangnya ketebalan lapisan aspal.

Sejumlah pihak pun mulai angkat suara, mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan proyek tersebut. Mereka mendesak agar instansi terkait segera turun tangan melakukan audit menyeluruh.

Jika dugaan ini benar, maka bukan hanya anggaran yang dirugikan, tetapi juga masyarakat yang harus menanggung dampak dari infrastruktur yang cepat rusak.

Publik kini menunggu langkah tegas: akankah temuan ini ditindaklanjuti, atau justru kembali menguap tanpa kejelasan? (Yt’s)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *