November 30, 2025
82b33b6c-234a-4ca8-a29d-3df76b6939f8

Bharindo Jakarta,- Wakil Ketua Komisi VII DPR, Lamhot Sinaga, menegaskan peringatan Hari Tani Nasional 2025 harus menjadi momentum refleksi bagi negara untuk memperkuat komitmen terhadap kedaulatan pangan. Menurutnya, sektor pertanian bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan tulang punggung kemandirian bangsa dan masa depan ekonomi nasional.

“Industri pangan yang kuat akan menjadi fondasi kedaulatan pangan,” kata Lamhot dalam keterangan yang dikutip, Rabu, 24 September 2025.

Lamhot menyoroti kontribusi industri makanan dan minuman yang pada 2024 menyumbang lebih dari 36 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, dengan nilai ekspor menembus 50 miliar dolar AS. Namun, ia mengingatkan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku masih tinggi.

Ia menekankan arah kebijakan pangan Presiden Prabowo Subianto kini bergeser dari ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan, yang mengedepankan kemandirian rakyat dan produksi dalam negeri.

“Potensi hortikultura kita besar, tetapi pasar masih dipenuhi produk impor seperti beras dan buah. Impor harus dikurangi secara bertahap sambil memperkuat produksi lokal dengan benih unggul, pupuk, dan logistik yang efisien,”jelasnya.

Lamhot juga menyoroti ketersediaan pupuk bersubsidi. Kapasitas produksi pupuk nasional mencapai 14,5 juta ton per tahun, dengan alokasi subsidi sebesar 9,55 juta ton pada 2025. Hingga Mei 2025, distribusi pupuk tercatat lebih dari 3 juta ton, sementara stok tersisa 2 juta ton yang tersebar di 27 ribu kios resmi.

“Jika petani dijamin akses pupuk, benih, dan pasar, mereka akan berani meningkatkan produksi. Kepastian pasar adalah jantung keberlanjutan pertanian,” tegasnya.

Selain itu, ia mendorong mekanisasi pertanian dengan penggunaan alat panen modern, sistem irigasi otomatis, hingga drone, untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menarik minat generasi muda. Lamhot juga menekankan pentingnya percepatan reformasi agraria dengan memanfaatkan lahan tidur.

Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, terdapat lebih dari 27 juta rumah tangga usaha tani yang menyerap sekitar 38 juta tenaga kerja, atau seperempat dari total angkatan kerja nasional. Sementara itu, perkebunan kelapa sawit nasional telah mencapai 16,8 juta hektare dengan produksi sekitar 50 juta ton per tahun. Nilai ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada 2025 diperkirakan mencapai 0,57 triliun dolar AS.

“Tanpa petani tidak ada pangan, dan tanpa pangan tidak ada kedaulatan bangsa. Petani adalah tulang punggung pangan nasional, negara harus berdiri di belakang mereka,” pungkas Lamhot. (ils78***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *