Jejak Radikalisme di Layar Gawai Pelajar Sorong

bharindo.co.id Sorong,- Penyebaran paham intoleran, radikal, dan teroris (IRT) melalui media sosial kian menjadi ancaman nyata, terutama bagi generasi muda. Platform digital yang semula dirancang sebagai ruang berekspresi kini tak jarang berubah menjadi medium propaganda, menyasar pelajar yang masih rentan secara psikologis dan ideologis. Fenomena inilah yang menjadi perhatian serius Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88 AT) Polri.

Di Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Tim Pencegahan Densus 88 AT Polri hadir langsung menyapa pelajar dan guru SMK Modelink melalui kegiatan Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) yang digelar Kamis (8/1/2026). Sekitar 130 peserta, terdiri dari siswa-siswi dan dewan guru, mengikuti kegiatan yang dimulai sejak pukul 10.00 WIT itu.

Dalam forum tersebut, Tim Pencegahan Densus 88 AT Polri—yang terdiri dari IPDA M. Arfa Jaya, S.H., Briptu Halim Hanafi, S.H., dan Briptu Iqro Anggi Permadani—memaparkan berbagai pola dan modus penyebaran paham IRT di ruang digital. Media sosial, aplikasi pesan instan, hingga konten daring bernuansa provokatif disebut kerap menjadi pintu masuk indoktrinasi, dengan remaja sebagai sasaran utama.

“Media sosial hari ini bukan hanya ruang berekspresi, tetapi juga dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda. Karena itu, siswa harus memiliki literasi digital dan sikap kritis agar tidak mudah terpengaruh konten menyesatkan,” ujar salah satu narasumber dari Tim Pencegahan Densus 88 AT Polri.

Namun, pencegahan tak cukup hanya menyasar pelajar. Tim juga menyoroti peran strategis dewan guru sebagai garda terdepan di lingkungan sekolah. Guru didorong untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa, memperkuat pembinaan karakter, serta melakukan deteksi dini terhadap indikasi paparan paham ekstrem.

Kegiatan berlangsung interaktif. Sesi tanya jawab membuka ruang bagi siswa dan guru untuk berbagi pengalaman tentang penggunaan media sosial dalam keseharian mereka—dari sekadar hiburan hingga paparan konten yang memicu kebingungan dan keresahan.

Sosialisasi ini menegaskan satu hal: ancaman radikalisme tak lagi datang secara kasat mata, melainkan menyusup halus lewat layar gawai. Di tengah derasnya arus informasi digital, sinergi antara aparat, sekolah, dan keluarga menjadi kunci untuk memastikan ruang pendidikan tetap aman, kritis, dan bebas dari pengaruh paham intoleran, radikal, dan teroris, khususnya di wilayah Kabupaten Sorong. (***)

adminbharindo

Share
Published by
adminbharindo

Recent Posts

Bos Narkoba Buronan Bareskrim Nekat Oplas Wajah demi Kabur! Kini Ganti Kewarganegaraan dan Bersembunyi di Malaysia

Jakarta, bharindo.co.id — Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri terus memburu sosok buronan kelas kakap…

9 jam ago

KemenPPPA Desak Interpol Turun Tangan! Kasus Eksploitasi Seksual Anak Diduga Libatkan WNA Jepang Gegerkan Publik

Jakarta, bharindo.co.id — Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mendorong kepolisian untuk bekerja sama dengan…

9 jam ago

Jakarta Siaga! Belasan Ribu Personel Gabungan Dikerahkan Kawal Aksi Hari Kebangkitan Nasional 2026

Jakarta, bharindo.co.id — Polda Metro Jaya menyiapkan sebanyak 14.237 personel gabungan untuk mengawal dan melayani…

9 jam ago

Kemnaker Gandeng Unpad, Siapkan SDM Unggul Hadapi Gempuran Dunia Kerja Digital

Bandung, bharindo.co.id — Kementerian Ketenagakerjaan menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengembangan sumber daya manusia…

9 jam ago

Gudang Bulog Ngawi Penuh! Polisi Pastikan Stok Beras dan Jagung Aman hingga Bertahun-Tahun

Ngawi, bharindo.co.id — Satgas Pangan Polres Ngawi turun langsung melakukan pengawasan dan pengecekan stok beras…

9 jam ago

El Nino 2026 Mengancam! Polda Sumsel dan Polri Siaga Hadapi Karhutla, Krisis Pangan hingga Ancaman Sosial

Palembang, bharindo.co.id — Polda Sumatera Selatan bersama Divisi Humas Polri memperkuat kesiapsiagaan menghadapi fenomena El…

9 jam ago