Agustus 18, 2026
image - 2026-08-17T135003.904

Gorontalo, bharindo.co.id 16 Agustus 2026 – Setiap peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia sesungguhnya bukan sekadar ritual tahunan untuk mengenang masa lalu. peringatan adalah momentum untuk bertanya kembali: apa arti kemerdekaan bagi generasi yang hidup di zaman yang sangat berbeda dari para pejuang dahulu?

Memasuki usia ke-81 tahun kemerdekaan Indonesia, pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan. Indonesia hari ini tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk kolonialisme sebagaimana yang dialami para pendahulu bangsa dan daerah-daerahnya. Namun, bangsa ini menghadapi tantangan baru yang tidak kalah kompleks seperti perubahan teknologi yang begitu cepat, derasnya arus informasi, disrupsi budaya, polarisasi sosial, hoaks, disinformasi, hingga ancaman terhadap identitas dan karakter kebangsaan dan daerah.

Jika dahulu perjuangan kemerdekaan membutuhkan keberanian untuk mengangkat senjata dan mempertaruhkan jiwa serta raga, maka perjuangan generasi hari ini berlangsung di ruang yang berbeda. Salah satunya adalah ruang digital.

Di ruang inilah masyarakat dituntut untuk memiliki keberanian, kecerdasan, ketahanan, sekaligus tanggung jawab.

Perjuangan Tidak Berakhir Setelah Kemerdekaan

Kemerdekaan tidak berarti bahwa perjuangan telah selesai. Kemerdekaan justru membuka ruang perjuangan yang lebih luas untuk membangun kehidupan bangsa yang berdaulat, maju, adil, dan bermartabat. Karena itu, semangat para pahlawan perlu diterjemahkan sesuai dengan konteks zaman.

Sikap pantang menyerah dapat diwujudkan melalui kemauan untuk terus belajar, meningkatkan literasi digital, mengembangkan kreativitas, dan menciptakan inovasi. Semangat rela berkorban dapat diwujudkan melalui kesediaan menyumbangkan waktu, tenaga, pengetahuan, dan kemampuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara keberanian yang dahulu diwujudkan di medan perjuangan, kini dapat hadir dalam bentuk keberanian untuk mengatakan benar terhadap yang benar dan salah terhadap yang salah; keberanian untuk tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi; serta keberanian untuk melawan kebencian, provokasi, dan disinformasi yang dapat memecah persatuan. Dengan demikian, medan perjuangan boleh berubah, tetapi semangat perjuangan tidak boleh hilang.

Mo’odelo sebagai Kompas Moral

Dalam konteks masyarakat Gorontalo, semangat tersebut memiliki akar yang kuat dalam kearifan local masyarakatnya. Salah satunya adalah falsafah Mo’odelo yang mengandung nilai-nilai penting dalam membangun karakter individu dan kehidupan social kemasyarakatan.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya antara lain Dudelo, yang berkaitan dengan sifat bawaan; Mo’ulindlapo, yang merefleksikan kecerdasan dalam berpikir dan kecekatan dalam bekerja; Dulohupa, yang menekankan pentingnya mufakat; Huyula, yang mencerminkan semangat gotong royong; Balata-Yipilo, yang berkaitan dengan ketegasan dan keterbukaan; serta Dunguto, Ponuwo, dan Loyode, yang mengandung nilai kecintaan kepada sesama dan lingkungan (Haluty, 2014).

Nilai-nilai tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lalu. Ia justru dapat dihidupkan kembali sebagai kompas moral dalam menghadapi perubahan zaman. Di tengah banjir informasi, masyarakat membutuhkan kecerdasan untuk memilah mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan. Di tengah perbedaan pandangan, dibutuhkan semangat Dulohupa untuk membangun dialog dan mencari titik temu. Di tengah berbagai persoalan sosial, semangat Huyula mengingatkan bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan secara individual.

Begitu pula dengan ketegasan dan keterbukaan. Keduanya menjadi semakin penting ketika ruang digital memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat dengan sangat cepat, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang terjadinya penyalahgunaan informasi. Dengan kata lain, teknologi membutuhkan kecerdasan, tetapi kecerdasan membutuhkan moral sebagai pengarahnya.

Kemerdekaan di Ruang Digital

Transformasi digital telah memberikan peluang yang luar biasa besar bagi Indonesia. Pendidikan menjadi semakin mudah diakses, aktivitas ekonomi berkembang melalui platform digital, pelayanan pemerintahan dapat dilakukan secara lebih cepat, dan masyarakat memiliki ruang partisipasi publik yang semakin luas. Namun, setiap kemajuan selalu memiliki konsekuensi.

Ruang digital dapat menjadi sarana mencerdaskan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi ruang penyebaran kebohongan. Media sosial dapat memperkuat persaudaraan, tetapi juga dapat memperbesar polarisasi. Teknologi dapat meningkatkan produktivitas, tetapi tanpa kemampuan beradaptasi dapat menciptakan kesenjangan baru. Karena itu, kemerdekaan di era digital tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan untuk menggunakan teknologi.

Kemerdekaan digital adalah kemampuan menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab.

Bebas berekspresi tanpa kehilangan etika. Bebas berpendapat tanpa merendahkan orang lain. Bebas berinovasi tanpa meninggalkan nilai kebangsaan. Bebas memperoleh dan menyebarkan informasi tanpa mengabaikan kebenaran. Serta bebas membangun jejaring tanpa kehilangan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Di sinilah pendidikan karakter dan literasi digital menjadi semakin penting.

Menghidupkan Kearifan Lokal di Tengah Globalisasi

Kearifan lokal sering kali diposisikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu. Padahal, nilai-nilai lokal justru dapat menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi masa depan. Mo’odelo dapat ditempatkan dalam perspektif tersebut.

Nilai lokal tidak harus dipertentangkan dengan teknologi modern. Keduanya dapat berjalan bersama. Teknologi memberikan alat, sedangkan nilai memberikan arah. Teknologi mempercepat perubahan, sementara kearifan lokal membantu manusia memastikan bahwa perubahan tersebut tetap berada dalam koridor kemanusiaan. Bagi masyarakat Gorontalo, menghidupkan nilai-nilai Mo’odelo di era digital berarti menjadikan kearifan lokal bukan hanya simbol identitas budaya, melainkan praktik kehidupan sehari-hari.

Semangat gotong royong dapat diwujudkan melalui kolaborasi di ruang digital. Musyawarah dapat diterapkan dalam membangun dialog yang sehat. Kecerdasan dapat diwujudkan melalui budaya literasi. Keterbukaan dapat menjadi dasar komunikasi publik. Ketegasan dapat menjadi modal untuk menolak informasi yang menyesatkan. Sementara kecintaan kepada sesama dan lingkungan dapat menjadi dasar dalam menggunakan teknologi untuk menghadirkan manfaat sosial.

Melanjutkan Perjuangan dengan Cara Zaman Kita

Pada akhirnya, memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan hanya tentang mengibarkan bendera, mengenang jasa para pahlawan, atau mengulang kembali kisah perjuangan masa lalu. Peringatan kemerdekaan harus menjadi kesempatan untuk meneruskan perjuangan dengan cara yang sesuai dengan zaman kita.

Generasi hari ini mungkin tidak lagi berjuang di medan perang. Tetapi kita memiliki medan perjuangan baru yakni ruang pendidikan, ruang ekonomi, ruang pemerintahan, ruang sosial, dan terutama ruang digital.

Di ruang-ruang tersebut, bangsa dan daerah ini membutuhkan manusia yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, integritas, kepedulian, dan tanggung jawab kebangsaan.

Karena itu, spirit Mo’odelo dapat menjadi salah satu landasan moral bagi masyarakat Gorontalo dalam menghadapi era disrupsi digital.

Kemerdekaan bukanlah alasan untuk berhenti berjuang. Justru karena telah merdeka, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kemerdekaan itu memberi manfaat bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang.

Dengan Mo’odelo sebagai kompas, teknologi sebagai alat, dan semangat kebangsaan sebagai tujuan, era digital bukanlah ancaman yang harus ditakuti. Digital adalah ruang perjuangan baru untuk memperkuat jati diri, memperluas kolaborasi, mendorong inovasi, menjaga persatuan, dan memperbesar kontribusi bagi Indonesia. Sebab pada akhirnya, setiap zaman memiliki medan perjuangannya sendiri.

Dan tugas generasi kita adalah memenangkan perjuangan di zaman kita sendiri. (redaksi, nnts***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *