Mei 12, 2026
WhatsApp Image 2026-04-29 at 12.17.33

Purbalingga, bharindo.co.id – Kegelisahan para sopir angkutan kota di Kabupaten Purbalingga akhirnya memuncak. Organisasi Sopir Angkutan Kota (OSAKA) Purbalingga melakukan audiensi dengan unsur pimpinan DPRD Kabupaten Purbalingga, Hj. Teny Juliawati, S.E., M.Si., Rabu (29/04/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Ketua OSAKA Purbalingga, Suyatno, menyampaikan keluh kesah mendalam terkait semakin terpuruknya nasib angkutan kota. Ia menyoroti kebijakan tarif Trans Jateng yang hanya Rp1.000 untuk semua jarak karena subsidi pemerintah, yang dinilai memukul keras pendapatan sopir angkot.

“Dengan tarif semurah itu, masyarakat tentu lebih memilih Trans Jateng. Sementara kami semakin sepi penumpang dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup,” ungkap Suyatno.

Tak hanya itu, keberadaan armada odong-odong yang beroperasi tanpa legalitas sebagai angkutan umum juga menjadi sorotan serius. Menurutnya, kondisi ini memperparah persaingan yang tidak sehat di lapangan.

Suyatno juga mengaku kecewa lantaran pihaknya telah beberapa kali mengirimkan surat resmi kepada Bupati melalui dinas terkait, namun hingga kini tidak pernah mendapatkan respons. Audiensi dengan DPRD kali ini menjadi harapan baru bagi para sopir untuk didengar.

“Kami bersyukur akhirnya bisa menyampaikan langsung aspirasi kepada wakil rakyat. Ini soal kelangsungan hidup kami,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Pimpinan DPRD Kabupaten Purbalingga, Hj. Teny Juliawati, menyatakan pihaknya menerima dan akan menindaklanjuti seluruh aspirasi yang disampaikan. Ia berkomitmen membawa persoalan ini ke dalam rapat dewan agar mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

“Mereka ini pejuang keluarga. Apa yang disampaikan hari ini akan kami kawal dan perjuangkan di DPRD,” ujar Teny.

Ia juga menegaskan pentingnya pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, mengingat kondisi angkutan kota di Purbalingga sudah berada pada titik kritis akibat tekanan persaingan dan perubahan sistem transportasi.

Audiensi ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan transportasi lokal di Purbalingga tidak bisa lagi diabaikan. Jika tidak segera ditangani, nasib ratusan sopir angkutan kota terancam semakin terpuruk di tengah arus perubahan zaman. (rswns***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *