Februari 16, 2026
image - 2025-12-04T115239.979

bharindo.co.id Jakarta,— Episode ketiga dialog mahasiswa STIK-PTIK kembali menghadirkan gagasan segar mengenai arah transformasi Polri di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Berbeda dari sesi sebelumnya, kali ini para mahasiswa tampil langsung sebagai pembicara, menyampaikan perspektif generasi baru yang digadang akan memimpin bangsa di masa depan. Sejumlah tokoh yang hadir turut memperkuat pandangan mengenai pentingnya kesiapan Polri memasuki era digital.

Dosen Kepolisian Utama Tk.I STIK Lemdiklat Polri, Irjen Pol Drs. Bahagia Dachi, S.H., M.H., menegaskan bahwa Polri perlu semakin terbuka terhadap kritik dan masukan publik.
“Pesan utamanya, seperti yang disampaikan para pembicara tadi, adalah bahwa Polri siap menerima kritik dari masyarakat. Sebaliknya, mahasiswa yang berasal dari Polri juga menyampaikan bahwa masyarakat harus siap dikritik. Jadi ada timbal balik,” ujarnya.

Irjen Dachi menambahkan bahwa transformasi Polri bertumpu pada tiga komponen utama: people, technology, dan process. Ia mencontohkan pengembangan sistem ETLE yang dapat ditingkatkan melalui dukungan teknologi dan AI agar lebih mudah diakses masyarakat.
“Kalau pelanggaran bisa langsung dibayar lewat QR code, atau ETLE langsung mengirimkan notifikasi WhatsApp, itu akan jauh lebih mudah. AI sangat membantu proses seperti itu. Penggunaan AI dalam penegakan hukum di masa depan tidak bisa dielakkan,” tegasnya.

Sementara itu, Founder Drone Emprit dan PT Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menekankan pentingnya pendekatan pencegahan dalam model kepolisian modern. Ia mengapresiasi munculnya kritik dari mahasiswa Polri yang menunjukkan kesadaran akan perlunya perubahan paradigma.
“Mereka menyadari bahwa kita selama ini terlalu fokus pada penegakan hukum, padahal ada juga prediction dan pencegahan. Kalau pencegahan bisa dibantu oleh AI—misalnya melalui ETLE atau data CCTV untuk memetakan lokasi rawan—maka masyarakat bisa mendapat feedback dan itu membantu tugas polisi,” jelasnya.

Dari unsur organisasi kepemudaan, Perwakilan GP Ansor Ahmad Luthfi mengingatkan mahasiswa STIK tentang pentingnya literasi teknologi dalam tugas kepolisian.
“Jika ingin menjadi pemimpin masa depan, maka harus menguasai teknologi. Dari pembicaraan tadi, terlihat bahwa setiap peristiwa ataupun persoalan di era sekarang selalu melibatkan teknologi,” ujarnya.

Dialog pada episode ketiga ini menyimpulkan bahwa masa depan Polri—serta kepemimpinan nasional—berada di tangan generasi muda yang melek teknologi, adaptif, dan terbuka terhadap perubahan. Melalui pandangan Irjen Bahagia Dachi, Ismail Fahmi, dan Ahmad Luthfi, terlihat bahwa transformasi digital Polri tidak hanya menuntut kesiapan institusi, tetapi juga kolaborasi seluruh ekosistem: mahasiswa, masyarakat, akademisi, dan sektor pendukung. Dialog ini sekaligus menjadi ruang pembuktian bahwa generasi muda Polri siap mengambil peran dalam membentuk wajah kepolisian modern Indonesia. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *