Tinigi Menggema! Desa Kecil di ToliToli Jadi Pusat Perayaan Hari Desa Nasional 2026
bharindo.co.id TOLITOLI,— Desa Tinigi, Kecamatan Galang, Kabupaten ToliToli, Sulawesi Tengah, mendadak menjadi pusat perhatian regional. Desa yang sarat nilai budaya dan semangat gotong royong ini resmi menjadi tuan rumah Peringatan Hari Desa Nasional 2026, sebuah momentum besar yang menegaskan desa sebagai jantung pembangunan Indonesia.

Acara bergengsi ini digelar pada 15 Januari 2026 di Lapangan Hi Muhamad Tang, Desa Tinigi, mulai pukul 09.00 Wita hingga selesai. Ribuan mata tertuju ke Tinigi, tempat di mana suara desa disatukan dalam semangat kebangkitan nasional dari akar rumput.
Hari Desa Nasional bukan sekadar seremoni. Ia adalah penegasan ideologi pembangunan—bahwa desa bukan pelengkap, melainkan fondasi utama kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya bangsa. Sejak Undang-Undang Desa diberlakukan pada 2014, desa memiliki kewenangan kuat untuk mengelola pembangunan demi kesejahteraan masyarakatnya.
Momentum ini sejalan langsung dengan Asta Cita ke-6 Presiden RI, yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan. Dari Tinigi, pesan itu menggema: Indonesia dibangun dari desa, bukan dari menara gading.
Puncak peringatan Hari Desa Nasional 2026 di Tinigi dipenuhi agenda strategis dan sarat makna. Salah satunya adalah Pemberian Penghargaan Lomba Hari Desa Nasional 2026, serta penyerahan apresiasi bagi program kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah berbasis desa.
Sorotan penting datang dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten ToliToli, yang diwakili oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Magfira, S.Sos. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya Deklarasi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) sebagai komitmen nyata, bukan sekadar slogan.
Deklarasi ini menjadi ikrar bersama untuk menciptakan desa yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Tujuannya jelas dan tegas: mewujudkan kesetaraan gender, melindungi hak anak, serta meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan desa.
Deklarasi tersebut kemudian diperkuat dengan penandatanganan komitmen DRPPA sebagai langkah konkret menuju Kabupaten Layak Anak, sebuah tonggak penting dalam sejarah pembangunan sosial ToliToli.
Tak hanya sarat kebijakan, peringatan ini juga dipenuhi nuansa budaya dan kegembiraan. Atraksi dari SD Negeri 1 Tinigi, pertunjukan tarian tradisional, serta tarian penyambutan tamu kehormatan menyemarakkan suasana, menjadi simbol bahwa anak-anak dan budaya lokal adalah denyut nadi masa depan desa.
Acara monumental ini dihadiri oleh seluruh kepala desa se-Kabupaten ToliToli, jajaran OPD, Forkopimda, Ketua PKK se-Kabupaten ToliToli, serta berbagai tokoh desa dan masyarakat. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menegaskan satu pesan kuat: desa bukan objek pembangunan, melainkan subjek utama perubahan.

Bagi masyarakat ToliToli, khususnya warga Desa Tinigi, peringatan ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tonggak sejarah. Dari lapangan sederhana di Tinigi, lahir tekad besar untuk Indonesia yang lebih adil, setara, dan berakar kuat pada desa.
Tinigi hari ini bukan sekadar desa—ia adalah simbol kebangkitan.
(KKDs***)
