bharindo.co.id Desa Hutanabolon, Tukka,— Ketika banjir dan longsor memutus suplai air bersih di Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, kehadiran Satuan Brimob Polda Sumatera Utara menjadi harapan baru bagi warga. Di tengah keterbatasan fasilitas dasar, Brimob menurunkan Water Treatment Mobile, perangkat pengolah air lapangan yang umumnya digunakan dalam operasi kebencanaan berskala besar.
Sejak mesin itu dioperasikan, warga berdatangan membawa jeriken, galon, hingga drum kecil. Antrean panjang terlihat sejak pagi hari, mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih yang selama beberapa hari nyaris tidak tersedia. Air tersebut tak hanya digunakan untuk mencuci atau mandi, tetapi terutama untuk kebutuhan vital: minum dan memasak.
Water Treatment Mobile mengolah air yang tercemar lumpur banjir melalui proses filtrasi dan sterilisasi. Dalam hitungan menit, air keruh berubah menjadi jernih dan siap konsumsi. Tidak heran bila warga menyebut alat ini sebagai “penyelamat di tengah krisis air”.
Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Ferry Walintukan, menjelaskan bahwa penempatan alat tersebut dilakukan berdasarkan kondisi darurat di lapangan.
“Kami siagakan Water Treatment Mobile di wilayah yang paling terdampak dan mengalami kekurangan air bersih. Ini bukan sekadar bantuan teknis, tetapi upaya memastikan masyarakat tetap mendapat air aman konsumsi meskipun jaringan distribusi air belum pulih,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa alat ini dioperasikan secara kontinu dan mampu menghasilkan air dalam jumlah signifikan setiap harinya, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara merata.
“Kami tidak hanya hadir untuk evakuasi dan pembersihan, tetapi juga memenuhi kebutuhan dasar masyarakat agar tetap bisa bertahan dengan aman dan layak,” katanya.
Keberadaan unit pengolah air ini menjadi solusi penting bagi Desa Hutanabolon, terlebih sumber air setempat rusak akibat material banjir. Warga mengaku sangat terbantu, terutama para ibu rumah tangga yang menyebut air bersih sebagai kebutuhan paling mendesak pasca banjir. Anak-anak pun kini dapat kembali beraktivitas dengan normal.
Selain mendistribusikan air bersih, personel Brimob turut membantu menyiapkan tempat penampungan sementara serta mengatur pembagian air agar setiap rumah mendapatkan suplai sesuai kebutuhan.
Meskipun terlihat sederhana, langkah ini dinilai sangat berdampak besar. Di tengah kondisi pasca bencana ketika listrik dan sejumlah fasilitas belum sepenuhnya pulih, teknologi pengolah air milik Brimob menjadi simbol hadirnya negara dalam memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat.
Dengan respons cepat dan terukur, Sat Brimob Polda Sumut menunjukkan bahwa kemanusiaan bukan hanya tentang hadir di lokasi, tetapi menyediakan solusi nyata di titik paling krusial—tempat masyarakat benar-benar membutuhkan bantuan. (***)
