Majalengka, bharindo.co.id — Proyek pemeliharaan Jalan Gandasari–Kasokandel di Kecamatan Kasokandel kini menjadi sorotan tajam publik. Pekerjaan pengaspalan hotmix yang dikerjakan oleh CV. BARRAH diduga kuat tidak sesuai spesifikasi teknis, terutama terkait ketebalan lapisan aspal yang terlihat mencurigakan.
Sejumlah temuan di lapangan memunculkan tanda tanya besar. Aspal yang terpasang secara visual tampak jauh lebih tipis dari standar, memicu dugaan adanya pengurangan volume material yang berpotensi merugikan keuangan negara.
Pengawas lapangan, Nana, dalam keterangan melalui pesan WhatsApp menyebutkan bahwa total penggunaan hotmix mencapai sekitar 57 ton—angka yang sebelumnya disebut hanya 47 ton. Ia juga menyatakan bahwa pekerjaan koring atau penggalian telah dilakukan sepenuhnya.
“Hotmix yang digunakan jenis HRS dengan volume sekitar 57 ton atau setara 5 dump truck,” tulisnya.
Namun, data tersebut justru bertolak belakang dengan hasil analisis di lapangan. Berdasarkan estimasi:
- Volume terpasang: 294 m × 3 m × 0,02 m = 17,64 m³
- Berat terpasang: 17,64 m³ × 2,23 ton/m³ = 39,33 ton
- Selisih volume: ±19,66 ton
Dari selisih tersebut, muncul dugaan potensi penyimpangan dengan nilai mencapai sekitar Rp39 juta.
Tak hanya itu, kejanggalan lain juga muncul dari papan proyek. Tercatat bahwa SPK dikeluarkan pada 26 Maret 2025, namun pelaksanaan pekerjaan justru baru dilakukan sekitar Maret 2026. Hal ini semakin memperkuat dugaan lemahnya pengawasan dari Dinas PUTR Kabupaten Majalengka.
Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp200 juta dari APBD Tahun 2026 ini kini menjadi perhatian serius masyarakat. Warga mendesak adanya audit menyeluruh dan transparan untuk mengungkap apakah benar terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Jika dugaan ini terbukti, maka bukan hanya kualitas jalan yang dipertanyakan, tetapi juga integritas pelaksanaan proyek pemerintah di daerah. (Yts***)
