April 21, 2026
image (46)

Gorontalo, bharindo.co.id — Di tengah terik siang Kabupaten Gorontalo, sebuah kegiatan berlangsung tanpa publikasi besar, tanpa panggung seremoni. Namun justru di situlah muncul pertanyaan: mengapa aksi yang sarat makna ini nyaris tanpa gaung?

Rombongan personel Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda Gorontalo tiba di Panti Asuhan Ummul Iman, Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Kamis (16/4/2026). Dipimpin Wadanki 1 Batalyon C Pelopor, Arifin Mahadjani, mereka membawa ratusan paket sembako—diturunkan satu per satu tanpa seremoni berlebihan.

Tak ada atribut kampanye, tak ada panggung pidato panjang. Yang terlihat hanya interaksi sederhana: personel berseragam menyapa anak-anak, berbincang, dan mencoba menghadirkan rasa aman di ruang yang selama ini jauh dari perhatian publik.

Namun di balik kesederhanaan itu, muncul refleksi lebih dalam. Apakah kegiatan sosial seperti ini memang sengaja dijauhkan dari sorotan, atau justru menunjukkan bahwa kepedulian sering kali berjalan diam-diam tanpa perlu eksposur?

Panti asuhan yang dikelola oleh purnawirawan Polri, Ahmad Fadil, bersama Astuti Mokodongan, menjadi saksi suasana haru yang sulit disembunyikan.

“Kami sangat bangga dengan keikhlasan hati mereka,” ujar Ahmad Fadil, dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Astuti Mokodongan menyebut kehadiran Brimob memberi dampak psikologis yang tak tergantikan. “Anak-anak merasa senang dan terlindungi. Ini bukan sekadar bantuan,” katanya.

Di sisi lain, pernyataan resmi dari Dansat Brimob Polda Gorontalo, Danu Waspodo, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial institusi.

“Brimob tidak hanya hadir dalam tugas pengamanan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial,” ujarnya.

Meski demikian, kegiatan ini menyisakan ruang tafsir. Di tengah berbagai isu sosial dan citra aparat yang kerap diuji, aksi-aksi senyap seperti ini bisa dimaknai sebagai upaya membangun kembali kedekatan dengan masyarakat—atau sekadar bentuk kepedulian yang memang tak butuh sorotan.

Yang jelas, di Hunggaluwa siang itu, bukan hanya sembako yang dibagikan. Ada rasa diperhatikan, ada kehangatan, dan ada pesan bahwa di balik seragam yang tegas, kemanusiaan masih menemukan jalannya—meski tanpa suara keras. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *