September 11, 2026
image - 2026-08-19T144656.953

MANGGARAI, NTT bharindo.co.id Polri menunjukkan komitmen penuh dalam operasi kemanusiaan bagi korban gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Keseriusan tersebut ditandai dengan kehadiran langsung Astamaops Kapolri Komjen Pol. Dr. Muhammad Fadil Imran, M.Si. ke lokasi bencana guna memastikan penanganan berjalan cepat, tepat, dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Pada Senin (17/8/2026), Astamaops Kapolri didampingi Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H. dan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah, S.I.K., S.H., M.Si. meninjau Posko Pengungsian Barang Kolo, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.

Berdasarkan data Polres Manggarai hingga 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA, gempa bumi mengakibatkan 163 korban, terdiri dari 27 meninggal dunia, 32 luka berat, dan 104 luka ringan. Sementara itu, jumlah pengungsi mencapai 13.881 jiwa yang tersebar di 45 posko pengungsian di delapan kecamatan.

Dalam kunjungan tersebut, Astamaops Kapolri langsung mengecek kondisi pengungsi sekaligus menyalurkan 2.500 paket bantuan sosial, tenda darurat, serta dua unit Starling guna mendukung pelayanan kepada masyarakat.

Setiap paket bantuan berisi beras, gula, mi instan, teh, kecap, biskuit, dan minyak goreng. Bantuan itu melengkapi distribusi logistik sebelumnya berupa terpal, genset, makanan, minuman, hingga layanan kesehatan.

Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah menegaskan bahwa Polri hadir untuk memastikan masyarakat tidak menghadapi musibah sendirian.

“Kami pastikan masyarakat tidak sendiri. Kami hadir membantu evakuasi, menyalurkan bantuan, menyediakan tenda darurat, pelayanan kesehatan, sekaligus menjaga keamanan. Setiap kebutuhan masyarakat terus kami data dan segera kami tindak lanjuti,” tegasnya.

Penanganan gempa dilakukan secara terpadu bersama TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat.

Polri berperan dalam evakuasi korban, distribusi bantuan, pelayanan di posko, pengamanan, patroli, hingga koordinasi lintas instansi agar seluruh proses berjalan efektif.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua unsur memiliki peran masing-masing dan bergerak dalam satu tujuan, yaitu menyelamatkan serta membantu masyarakat terdampak,” ujar AKBP Levi.

Selain korban dan pengungsi, Polres Manggarai mencatat 2.398 fasilitas mengalami kerusakan, meliputi fasilitas pemerintah, pendidikan, kesehatan, fasilitas umum, dan rumah warga. Data tersebut terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan.

Operasi kemanusiaan ini melibatkan 100 personel Polri, 68 personel Brimob, 31 personel TNI, 5 personel Basarnas, serta 6 personel BPBD Jawa Timur yang bekerja tanpa henti melakukan evakuasi, pelayanan kesehatan, distribusi logistik, hingga pengamanan wilayah terdampak.

Usai meninjau Kecamatan Reok, Astamaops Kapolri melanjutkan kunjungan ke Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, guna memastikan penanganan korban berjalan optimal.

Kapolres Manggarai menegaskan bahwa Polri akan terus berada di tengah masyarakat selama masa tanggap darurat.

“Data berubah, kebutuhan berubah, maka respons juga harus cepat menyesuaikan. Di mana masyarakat membutuhkan kehadiran Polri, di situ personel kami berada,” pungkas AKBP Levi.

Operasi kemanusiaan di Manggarai menjadi bukti nyata bahwa Polri bersama TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat bergerak dalam satu misi: menyelamatkan korban, memenuhi kebutuhan pengungsi, dan memastikan warga terdampak tidak berjuang sendirian. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *