MAJALENGKA , Bharindo.co.id – Proyek pembangunan gedung baru di SMPN 1 Leuwimunding yang bersumber dari dana Anggaran Bantuan Presiden (Banpres) Tahun Anggaran 2026 menuai sorotan tajam dari masyarakat. Pasalnya, fasilitas pendidikan yang baru saja selesai dibangun dengan anggaran fantastis mencapai Rp1,1 miliar untuk rehab 7 lokal ruang kelas tersebut, kondisinya saat ini sudah mengalami keretakan struktural di sejumlah titik dinding bangunan.
Ironisnya, fasilitas yang diproyeksikan untuk meningkatkan kenyamanan dan menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa di sekolah, justru terkesan dikerjakan secara asal-asalan dan tidak maksimal.
Berdasarkan hasil pemantauan langsung serta investigasi mendalam awak media di lapangan, ditemukan beberapa komponen pekerjaan yang diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis Rencana Anggaran Biaya (RAB). Selain keretakan yang menjalar secara diagonal di bawah kusen jendela luar kelas, sistem penerangan lampu di ruang-ruang kelas baru tersebut juga tampak sangat minim dan tidak memadai untuk ruang belajar formal.
Saat awak media berupaya melakukan konfirmasi langsung kepada pihak sekolah, belum ada satu pun unsur pimpinan atau kepala sekolah yang bersedia memberikan tanggapan resmi secara mendetail. Kendati demikian, salah satu sumber internal sekolah membenarkan bahwa pengerjaan fisik seluruh bangunan tersebut diserahkan penuh kepada pihak ketiga (kontraktor/pengusaha).
”Saat ini gedung tersebut statusnya masih dalam masa pemeliharaan sampai enam bulan ke depan. Jadi, kalau ada kerusakan struktural maupun fasilitas penunjang yang retak, langsung akan diperbaiki oleh pihak pemborong,” ungkap sumber tersebut saat ditemui di lingkungan sekolah, Selasa (14/7/2026).
Hingga berita ini diturunkan, upaya penyeimbangan informasi terus dilakukan oleh awak media. Namun, saat mendatangi kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka guna menanyakan lemahnya fungsi pengawasan eksternal terhadap proyek Banpres miliaran rupiah ini, belum ada satu pun pejabat berwenang yang bersedia memberikan komentar resmi.
Temuan ketidakberesan fisik proyek Banpres ini seketika menyulut kekecewaan dan reaksi keras dari kalangan warga di Kecamatan Leuwimunding.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat, menyatakan keheranannya atas kualitas bangunan yang dinilai sangat rapuh padahal baru berumur jagung.
”Uang negara senilai Rp1,1 miliar itu sangat besar, bersumber dari Bantuan Presiden pula. Sangat memprihatinkan melihat bangunannya sudah retak-retak di sana-sini. Kami mendesak Inspektorat dan Disdik untuk segera melakukan audit fisik di lapangan. Jangan sampai ada praktik pengurangan spesifikasi material demi keuntungan sepihak pengusaha, sementara keselamatan dan kenyamanan belajar anak-anak kami yang menjadi taruhannya,” ujarnya.
Masyarakat menuntut agar Dinas Pendidikan dan instansi terkait tidak tinggal diam serta segera memanggil kontraktor pelaksana untuk bertanggung jawab membongkar bagian-bagian dinding yang retak demi menjamin kekuatan struktur bangunan secara permanen, bukan sekadar melakukan penambalan kosmetik yang berpotensi rusak kembali di kemudian hari.(Yt/tim).
