April 21, 2026
image (38)

Bogor, bharindo.co.id — Ancaman narkotika dan terorisme kini tak lagi bisa dipandang terpisah. Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menegaskan bahwa kedua kejahatan ini memiliki pola penanganan yang serupa—namun membutuhkan pendekatan berbeda dalam eksekusi.

Hal ini mengemuka dalam kunjungan kerja Kepala BNN, Suyudi Ario Seto, ke kantor Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Bogor, Jawa Barat.

Menurut Suyudi, inti pendekatan terletak pada akar masalah: narkotika berfokus pada pengendalian adiksi, sementara terorisme menyasar penanganan ideologi.

“Penguatan pembinaan nilai dan pemberdayaan ekonomi menjadi kunci. Salah satunya melalui pengalihan komoditas dari ganja ke kopi di Gayo Lues,” ungkapnya, Senin (13/4/2026).

Ia juga mengungkap ancaman baru yang mengkhawatirkan, yakni penyalahgunaan narkotika melalui rokok elektrik. Temuan pencampuran cairan vape dengan zat berbahaya seperti etomidate menjadi sorotan serius, terutama karena maraknya penggunaan di kalangan generasi muda.

BNN menilai, pendekatan berbasis pembinaan dan pemberdayaan harus menjadi prioritas, bukan semata-mata hukuman. Pembekalan keterampilan dinilai penting agar para penyalahguna maupun warga binaan dapat kembali produktif di tengah masyarakat.

Lebih jauh, Suyudi menegaskan bahwa sinergi lintas lembaga adalah kunci menghadapi kejahatan yang semakin kompleks dan terorganisir.

“Kami terus memperluas kolaborasi dan pertukaran informasi agar penanganan narkotika lebih efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BNPT, Eddy Hartono, mengingatkan adanya keterkaitan global antara narkotika dan terorisme atau narcoterrorism, di mana perdagangan narkoba kerap menjadi sumber pendanaan kelompok teroris.

“Sinergi lintas sektor menjadi kunci menjaga stabilitas keamanan nasional,” ujarnya.

BNPT sendiri telah menjalankan program pembinaan narapidana terorisme secara bertahap, dari risiko tinggi ke menengah, dengan pendekatan lebih terbuka namun tetap dalam pengawasan ketat.

Program tersebut mencakup pelatihan keterampilan, pendampingan, hingga proses reintegrasi sosial agar para mantan napiter dapat kembali ke masyarakat secara produktif.

Kolaborasi BNN dan BNPT ini menjadi sinyal kuat: negara tidak lagi bekerja secara parsial. Menghadapi ancaman narkotika dan terorisme yang saling berkelindan, dibutuhkan strategi terpadu—dari pencegahan, penindakan, hingga pemulihan. (ils78***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *