Agustus 11, 2026
WhatsApp Image 2026-08-09 at 12.41.26

PAMEKASAN, bharindo.co.id – Bharindo.Co.id.Seni mengolah batu akek menjadi barang bernilai seni tinggi masih terus lestari di tengah masyarakat Madura, berkat dedikasi para pengrajin yang menjaga tradisi turun-temurun. Salah satunya datang dari pasangan kakak-beradik, Ismail dan Hamdi, yang melanjutkan jejak langkah mendiang ayahnya, Sahri. Yang beralamat di jl. Jokotole , GG. 8, asam manis.Pamekasan – Pademawu. Minggu, ( 9/8/2026 )

Sejak tahun 2000 silam, Ismail dan Hamdi telah menggeluti dunia pengrajinan batu akek dengan penuh kesungguhan. Keduanya memulai perjalanan ini dengan belajar langsung dari sosok ayah yang menjadi pelopor keluarga mereka dalam mengolah batu berharga ini.

Bagi keduanya, menggeluti kerajinan batu akek bukan sekadar mata pencaharian semata, melainkan sebuah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Selama lebih dari dua puluh enam tahun berkecimpung di dunia ini, mereka terus mempertahankan kualitas hasil karya sekaligus mengembangkan ragam bentuk yang sesuai selera masyarakat.

Selain memproduksi sendiri, Ismail dan Handi juga menyediakan tempat yang disiapkan khusus untuk berbagai jenis batu ajek yang dikenal dengan sebutan emban. Berbagai bentuk dan ukuran batu tersedia di sana, mulai dari bahan mentah hingga yang sudah siap diolah.

Tidak hanya itu, keduanya juga menghadirkan beragam hasil kerajinan berupa liontin batu akek yang dibuat dengan pengerjaan teliti dan detail yang sangat indah. Setiap karya yang dihasilkan selalu dikerjakan dengan tangan sendiri tanpa meninggalkan ciri khas tradisi leluhur.

Nama Ismail dan Hamdi kini telah dikenal luas di kalangan pecinta dan pengrajin batu akek se-Wilayah Madura. Masyarakat mengakui keahlian mereka yang tak lepas dari pengaruh ajaran dan keteladanan almarhum Sahri yang sangat dihormati di kalangan sesama pengrajin.

Banyak penggemar batu akek yang datang dari berbagai pelosok daerah untuk melihat langsung koleksi maupun memesan karya khusus buatan mereka. Kepercayaan yang diberikan masyarakat menjadi penyemangat besar bagi keduanya untuk terus berinovasi tanpa menghilangkan nilai asli batu tersebut.

Ismail menyampaikan bahwa tantangan selama bertahun-tahun ini justru membuat mereka semakin teliti dalam menjaga kualitas hasil karya. Ia ingin nama baik ayahnya tetap terjaga melalui setiap hasil kerajinan yang mereka hasilkan setiap harinya.ujarnya.

Di sisi lain, Handi menambahkan bahwa mereka senantiasa terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar mengenal maupun mengolah batu ajek. Hal ini dilakukan agar tradisi berharga ini tidak terputus dan tetap dikenang oleh generasi yang akan datang.

Keberadaan mereka membuktikan bahwa cinta terhadap warisan budaya mampu melampaui masa dan keadaan. Dukungan keluarga serta masyarakat menjadi pondasi utama agar seni kerajinan batu ajek tetap lestari di tanah kelahirannya.

Hingga saat ini, pasangan kakak-beradik tersebut masih setia menggeluti pekerjaannya dengan penuh kerendahan hati. Mereka berharap ke depannya semakin banyak generasi muda Madura yang tertarik melestarikan kekayaan alam dan budaya yang ada di sekitar mereka.

Lewat tangan dingin Ismail dan Hamdi, nama almarhum Sahri tetap hidup dalam setiap kilau batu akek yang mereka ukir. Tradisi yang dibangun sejak tahun 2000 itu kini menjadi bukti nyata kesetiaan keluarga dalam menjaga identitas budaya Madura.
(nmws***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *