September 17, 2026
image (46)

JAKARTA, BHARINDO.CO.ID – Bagi masyarakat yang melintas di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, sebuah monumen raksasa berdiri kokoh dan seolah menantang langit ibu kota. Patung tersebut dikenal sebagai Monumen Pembebasan Irian Barat, yang menggambarkan sosok pria perkasa dengan tangan terangkat sambil memutus rantai sebagai simbol perjuangan dan pembebasan.

Namun, di balik kemegahan monumen tersebut tersimpan kisah perjuangan seorang putra Papua yang mempertaruhkan hidupnya demi Merah Putih. Sosok itu adalah Johannes Abraham Dimara, atau yang lebih dikenal dengan nama J.A. Dimara.

Lahir di Biak, Papua, J.A. Dimara merupakan salah satu tokoh penting dalam perjuangan mempertahankan Papua agar menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namanya memang tidak selalu menjadi pembahasan utama dalam buku-buku sejarah, namun kiprahnya dalam perjuangan pembebasan Irian Barat memiliki arti penting bagi perjalanan bangsa.

Pada 1954, Dimara memimpin pasukan gerilya yang melakukan penyusupan melalui jalur laut menuju kawasan Teluk Etna, Papua. Misi tersebut tidak mudah. Mereka membawa semangat untuk mengibarkan Sang Merah Putih sekaligus membangkitkan semangat masyarakat Papua agar bergabung dengan Indonesia.

Namun, operasi tersebut diketahui pihak Belanda. Pertempuran pun terjadi hingga akhirnya Dimara ditangkap oleh militer Belanda. Ia kemudian mengalami penderitaan selama berada dalam tahanan dan menjalani masa pengasingan di Boven Digoel.

Meski menghadapi tekanan dan penderitaan, semangat perjuangan Dimara tidak padam.

Setelah dibebaskan, kiprahnya kembali mendapat perhatian pemerintah Indonesia. Pada 1962, Presiden Soekarno membawa J.A. Dimara ke New York sebagai bagian dari delegasi Indonesia dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kehadiran Dimara sebagai putra asli Papua memiliki makna politik dan diplomatik yang kuat. Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa persoalan Papua bukan semata-mata kepentingan politik pemerintah, tetapi juga menyangkut aspirasi dan masa depan masyarakat Papua.

Ada satu momen yang kemudian menjadi inspirasi lahirnya Monumen Pembebasan Irian Barat.

Dalam sebuah pawai besar di Jakarta, J.A. Dimara tampil dengan rantai yang terputus di tangannya. Simbol tersebut menggambarkan lepasnya belenggu penjajahan dan perjuangan menuju pembebasan.

Presiden Soekarno yang melihat momen tersebut kemudian meminta seniman Henk Ngantung membuat sketsa sosok pembebasan tersebut. Gagasan itu selanjutnya diwujudkan menjadi sebuah monumen monumental oleh pematung Edhi Sunarso.

Kini, Monumen Pembebasan Irian Barat yang berada di Lapangan Banteng menjadi salah satu pengingat sejarah perjuangan bangsa.

Sosok J.A. Dimara sendiri kemudian mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya bagi Indonesia.

Ironisnya, di balik penghormatan negara tersebut, kehidupan masa tua J.A. Dimara justru jauh dari kemewahan. Ia menjalani hari-harinya dalam kesederhanaan dan pernah menghadapi kesulitan untuk mendapatkan biaya pengobatan.

J.A. Dimara akhirnya wafat pada tahun 2000 dan dimakamkan dengan penghormatan militer.

Monumen di Lapangan Banteng mungkin hanya berupa bangunan yang berdiri kokoh di tengah Jakarta. Namun, bagi sejarah Indonesia, patung tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih dalam: tentang keberanian, pengorbanan, persatuan dan perjuangan seorang putra Papua yang memilih berdiri bersama Indonesia.

Warisan J.A. Dimara bukan sekadar patung yang menjulang tinggi, melainkan semangat persatuan yang tetap hidup di tengah perjalanan bangsa.(edwns***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *