Juli 13, 2026
image (48)

SEMARANG, bharindo.co.id – Di balik kemegahan Upacara Penutupan Pendidikan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan ke-58/Batalyon Ksatriya Hawin Sarwahita, terselip kisah inspiratif yang menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diraih melalui kerja keras, ketekunan, dan kesempatan yang setara.

Adalah Adnan Kasweri, putra seorang kuli bangunan asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang berhasil mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih predikat Ati Trengginas, penghargaan bergengsi bagi taruna dengan ketangguhan fisik dan mental terbaik pada Akpol Angkatan ke-58.

Penghargaan tersebut diumumkan dalam Upacara Penutupan Pendidikan yang dipimpin Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M. di Lapangan Bhayangkara Akademi Kepolisian, Semarang, Jumat (10/7/2026).

Adnan mencatatkan nilai jasmani dan kesehatan kelulusan sebesar 93,64, sebuah capaian yang mengantarkannya menjadi salah satu lulusan terbaik di antara 282 Calon Perwira Remaja (Capaja) Polri yang resmi menyelesaikan pendidikan.

Di balik prestasi tersebut tersimpan perjuangan panjang. Adnan merupakan putra Sudaryo, seorang kuli bangunan yang selama ini bekerja keras demi mendukung pendidikan anaknya. Dengan segala keterbatasan ekonomi, sang ayah tetap menanamkan keyakinan bahwa cita-cita dapat diraih melalui usaha dan kejujuran.

Perjalanan Adnan menuju Akademi Kepolisian dimulai dari proses seleksi yang berlangsung secara berjenjang, mulai dari panitia daerah di Polda Kepulauan Bangka Belitung hingga panitia pusat yang diselenggarakan SSDM Polri pada tahun 2023.

Sudaryo mengaku mengikuti seluruh tahapan seleksi putranya dan merasakan langsung bahwa proses rekrutmen Polri dilaksanakan secara Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH).

“Saya mengikuti proses anak saya dari awal sampai akhir. Walaupun dengan segala keterbatasan, saya yakin proses rekrutmen ini benar-benar asli dan murni. Itulah yang saya rasakan,” ungkap Sudaryo.

Adnan sendiri mengaku sempat dihantui rasa minder karena latar belakang keluarganya yang sederhana. Namun, motivasi yang diberikan pimpinan Polri saat proses seleksi mengubah cara pandangnya dan membangkitkan kepercayaan dirinya.

Saat itu, Komjen Pol. Syahardiantono, yang menjabat Kadiv Propam Polri, bersama Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, yang saat itu menjabat As SDM Kapolri, memberikan pesan agar dirinya tidak pernah merasa rendah diri hanya karena profesi orang tua.

“Saya sempat minder karena orang tua saya buruh harian. Tapi saya diberi semangat agar tidak minder dan diminta menunjukkan kemampuan yang saya miliki. Saya hobi bermain bola voli, dan saat itu saya menunjukkan kemampuan saya,” tutur Adnan.

Motivasi tersebut menjadi titik balik yang semakin menguatkan tekadnya untuk berjuang hingga akhirnya berhasil menyandang predikat Ati Trengginas, sebuah penghargaan yang menjadi simbol ketangguhan fisik, mental, disiplin, dan daya juang seorang taruna.

Kisah Adnan menjadi cerminan bahwa Polri memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh putra-putri terbaik bangsa tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi. Melalui sistem rekrutmen BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis), setiap peserta memperoleh peluang yang sama untuk mengabdi kepada bangsa dan negara berdasarkan kemampuan, integritas, serta prestasi.

Prestasi yang diraih Adnan tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga dan daerah asalnya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan kerja keras, disiplin, dan integritas, setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari Bhayangkara yang profesional, berkarakter, dan mengabdi sepenuh hati kepada masyarakat, bangsa, dan negara. (azs***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *