Juni 20, 2024

Presiden Joko Widodo (kiri) dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kanan) saat menghadiri perhelatan pameran industri pertahanan Indo Defence 2022 Expo & Forum di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (2/11/2022) (Foto: Bharindo/Biro Pers Sekretariat Presiden).

Bharindo Jakarta,- Presiden RI terpilih, Prabowo Subianto mewacanakan pembentukan Presidential Club. Pihak Kantor Staf Presiden (KSP) menyerahkan sepenuhnya kepada Prabowo, terkait dibuatkan lembaga resmi atau tidak.

Tenaga Ahli Utama KSP Joanes Joko mengatakan, urgen tidaknya Presidential Club dijadikan resmi tergantung Prabowo saat menjabat Presiden. “Masing-masingkan punya pola komunikasi, apakah perlu pola komunikasi konstitusional atau semi formal itu tergantung,” katanya saat berbincang dengan Pro3 RRI, Selasa (7/5/2024).

Joko menilai, Prabowo ingin dapat intens berkomunikasi dengan para presiden pendahulunya, dalam mengurus bangsa. “Itu luar biasa, yang penting adalah masukan dari mantan presiden itu menjadi pertimbangan,” ucapnya.

Ia melanjutkan, Prabowo juga ingin menerima banyak masukan, dan memilih skenario yang pas untuk mengatasi suatu persoalan bangsa. “Itu yang terpenting, semakin banyak pola kepemimpinan, semakin satu persoalan itu akan kelihatan mudah,” ujarnya.

Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng menyambut positif wacana pembentukan Presidential Club. Menurutnya, Presidential Club dapat mendorong dialog konstruktif kepemimpinan negara, dengan memanfaatkan kebijaksanaan mantan presiden untuk mendukung kepemimpinan baru.

Baca juga: Andi Mallarangeng: Presidential Club Mendorong Dialog Konstruktif

Andi menekankan, konsep Presidential Club telah menjadi kebiasaan di negara-negara demokrasi lain, seperti Amerika Serikat. Di sana, mantan presiden memiliki forum informal untuk berbagi pengalaman dan memberikan masukan kepada presiden yang sedang menjabat.

Ia menyebutkan, Presidential Club tidak hanya akan berfungsi sebagai wadah untuk pertukaran pikiran dan pengalaman. Wadah ini juga sebagai sarana mempererat silaturahmi di antara mantan presiden dan presiden yang sedang menjabat.

Namun, Andi menegaskan, Presidential Club bukanlah lembaga resmi, karena sifatnya informal. Sehingga, Presidential Club tidak perlu diukur tingkat keberhasilannya secara langsung.

Hal penting menurutnya adalah terwujudnya dialog konstruktif dan kontribusi yang berarti, bagi kepemimpinan dan kebijakan negara. Sehingga, walaupun masih dalam tahap perencanaan, Presidential Club dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat demokrasi dan merawat keberagaman pandangan di dalam negeri.

“Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya dari wacana ini. Apakah Presiden Prabowo akan mendorongnya dan bagaimana respons dari mantan presiden, serta masyarakat luas,” ucapnya kepada Pro3 RRI.

Prabowo ingin Presidential Club menjadi wadah presiden yang sedang menjabat dengan presiden terdahulu. Presiden RI Joko Widodo menyambut positif usulan tersebut.

Presiden Jokowi bahkan tidak keberatan, jika pertemuan Presidential Club digelar tiga kali dalam sepekan. “Ya dua hari sekali (Presidential Club bersilaturahmi, red) enggak apa-apa,” kata Presiden Jokowi. (ils78***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.